Seblak Dafoe Kite Kini jadi Favorit Anak Muda Bengkulu
Seblak Dafoe Kite Kini jadi Favorit Anak Muda Bengkulu-Hamidatussaleha-radarbengkulu
radarbengkuluonline.id – Siapa sangka usaha yang berawal dari coba-coba, kini menjadi ladang rezeki yang menjanjikan bagi Radi Atun Mardiah (46) seorang ibu rumah tangga asal Pagar Dewa, Kota Bengkulu.
BACA JUGA:Smart City Bengkulu Sepi dan Tak Terurus, Banyak Fasilitas Rusak Tidak Diperbaiki
Sejak tahun 2023, ia mulai merintis usaha seblak prasmanan yang kini dikenal dengan nama “Seblak Dafoe Kite” dan telah menjadi favorit terutama di kalangan mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Fatmawati Sukarno Bengkulu.
Bermula dari melihat antusiasme kaum emak-emak dan anak muda terhadap makanan khas Sunda ini, Bu Atun — sapaan akrabnya — memberanikan diri membuka lapak kecil di kawasan Simpang Kantor Camat Selebar.
BACA JUGA:Ayo Daftarkan Bonsai Anda Sekarang, PPBI-Rakyat Bengkulu Gelar Pameran dan Kontes Bonsai Lokal
“Awalnya coba-coba saja. Lihat banyak yang suka seblak, terutama emak-emak dan anak-anak muda. Saya bilang Bismillah, Alhamdulillah sampai sekarang masih berjalan,” ungkap Atun saat diwawancarai RADAR BENGKULU, Selasa, 29 Juli 2025.
Menu andalan dari lapaknya adalah seblak prasmanan dan seblak tulang yang dikenal memiliki cita rasa khas karena perpaduan rasa gurih, pedas, dan manis. Keunikan rasa manis dalam seblak racikannya menjadi pembeda dari seblak pada umumnya.
BACA JUGA:Tarif Travel Bengkulu-Kaur Naik Drastis, Masyarakat Menjerit
Dengan sistem prasmanan, pembeli bebas memilih topping sesuai selera. Mulai dari kerupuk, sosis, bakso, makaroni, hingga tulang ayam. Harga per topping dibanderol seribuan rupiah, dan bisa mencapai Rp 10.000 per porsi atau lebih. Ini tergantung banyaknya topping yang dipilih.
“Kita sesuaikan dengan kantong anak sekolah dan mahasiswa. Yang penting enak dan bikin ketagihan,” ujar Atun.
Mahasiswa UIN Fatmawati Sukarno menjadi pelanggan setia Seblak Dafoe Kite ini. Atun menyebutkan, sebagian besar pelanggannya adalah anak-anak kuliahan, terutama dari kampus UIN yang kerap mampir seusai jam kuliah. “Ada yang seminggu sekali, sekarang bisa tiap hari beli. Alhamdulillah, testimoni juga bagus-bagus semua,” tambahnya.
Meski terkadang dagangan sepi, semangat Bu Atun tak pernah surut. Ia memegang prinsip bahwa rezeki sudah ada yang mengatur. “Kalau rame, Alhamdulillah. Kalau sepi, ya kita tetap bertahan. Gak boleh ngeluh,” ujarnya.
Dalam pemasaran, Bu Atun tidak hanya mengandalkan pembeli langsung. Ia aktif memanfaatkan media sosial seperti WhatsApp dan Instagram. Selain itu, keramahan dan pelayanan menjadi nilai utama yang ia jaga. “Yang penting pelayanannya harus ramah, itu kunci pelanggan balik lagi,” tegasnya.
Meski usaha ini sudah berkembang, Bu Atun belum berniat membuka cabang. Fokusnya saat ini adalah meningkatkan fasilitas di tempat usaha yang ada. Seperti menambah box untuk stok frozen food dan memperluas tempat dagang. “In shaa Allah kalau ada rezeki dan modal, kita renovasi saja. Cukup satu tempat, asal nyaman dan lengkap,” ujarnya.
Untuk mereka yang baru ingin memulai usaha, Atun menyarankan agar mencoba dari yang kecil terlebih dahulu. “Jualan online dulu. Kalau sudah ada pelanggan tetap, baru coba buka offline. Semua butuh proses,” tuturnya dengan semangat.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
