Nelayan Kesulitan Melaut, Harga Ikan Naik 30 Persen

 Nelayan Kesulitan Melaut,  Harga Ikan Naik 30 Persen

Nelayan Kesulitan Melaut, Harga Ikan Naik 30 Persen-M Sholihin-radarbengkulu

radarbengkuluonline.id  - Pedagang Ikan di Pasar Bengkulu, Kota Bengkulu mengeluh. Pasarnya, tangkapan nelayan turun drastis, sehingga harga agak mahal.  Pembeli pun  mulai mengurangi pembelian ikan.


Salah seorang pedagang ikan Widi Daw (32), pedagang ikan yang telah menekuni profesinya sejak 2014, mengungkapkan kondisi sulit yang dialami para pelaku usaha perikanan di Pasar Bengkulu saat ini. Harga ikan mengalami kenaikan signifikan hingga 20-30 persen akibat berkurangnya pasokan dari nelayan.

BACA JUGA:Janji Kampanye Ditepati, 130 Ambulan Gratis Jadi Hadiah Kemerdekaan untuk Masyarakat Bengkulu


"Naik semua. Mulai dari ruca sampai ikan gebur, kerapu dan capa. Kenaikannya sekitar 30 persen, ada juga 20 persen," ungkap Widi saat ditemui di lokasi jualannya.


Widi menjelaskan bahwa ia mengambil ikan langsung dari nelayan yang pulang dalam sehari. Namun, kondisi cuaca buruk membuat hasil tangkapan nelayan menurun drastis. "Kalau saat ini, tangkapan nelayan kadang cuman beberapa kilo, tidak sampai 30 kilo satu kapal. Padahal biasanya bisa lebih dari 100 kilo kalau cuaca bagus," jelasnya.

BACA JUGA:Walikota Kukuhkan 30 Orang Anggota Paskibraka Kota Bengkulu



Kenaikan harga ini turut berdampak pada daya beli masyarakat. Ikan gebur yang sebelumnya dijual seharga 60 ribu rupiah per kilogram untuk eceran, kini masih dalam kategori "terjangkau" menurut Widi, meski harganya telah naik.
Sementara itu, untuk jenis ikan pancingan, kenaikan harga cukup signifikan dari 40 ribu menjadi 60 ribu rupiah per kilogram. Ikan kerapu juga mengalami kenaikan harga yang cukup tinggi.

BACA JUGA:Wakil Walikota Bengkulu Bersama Asisten II Hadiri Even 8K Merah Putih Beach Run 2025


"Tanggapan pembeli memang mayoritas mahal. Kalau kami sebagai  penjual, lebih menyorot sedikit daripada tahun-tahun sebelumnya. Ikannya susah ," kata Widi menggambarkan kondisi penjualan yang menurun.

Menurut Widi, cuaca ekstrem menjadi faktor utama penyebab kelangkaan ikan. Nelayan kesulitan melaut karena kondisi cuaca yang tidak mendukung. "Pagi cuaca buruk, sore angin dan hujan. Makanya nelayan susah pergi ke laut," ungkapnya.

BACA JUGA:Mahasiswa Baru Antusias Ikuti Silaturahmi Civitas Akademika Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah UINFAS


Kondisi ini memaksa pedagang seperti Widi untuk menyesuaikan harga dengan kondisi pasokan yang terbatas. "Karena, kita harus mengimbangi dengan susahnya orang ke laut," jelasnya.

Widi memperkirakan harga ikan akan kembali normal pada akhir Agustus mendatang, seiring dengan perbaikan kondisi cuaca. "Nunggu cuaca baik saja. Paling-paling sudah Agustus mungkin normal lagi," harapnya.

BACA JUGA:Akses Spot Senja di Benteng Marlborough Kini Dibatasi, Warga Kehilangan Tempat Favorit


Kondisi ini mencerminkan ketergantungan sektor perikanan terhadap faktor alam. Dimana cuaca ekstrem dapat langsung berdampak pada ketersediaan dan harga ikan di pasar lokal.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: