Warisan Mahal: Mengapa Harga Batik Banten Menembus Angka Jutaan Rupiah?

Warisan Mahal: Mengapa Harga Batik Banten Menembus Angka Jutaan Rupiah?

Warisan Mahal: Mengapa Harga Batik Banten Menembus Angka Jutaan Rupiah?-Ist-

 

RADAR BENGKULU SERANG – Bagi pecinta wastra nusantara, Batik Banten bukan sekadar kain bermotif. Dikenal dengan warna-warna pastel yang cenderung "lembut" namun tegas, selembar kain Batik Banten seringkali dibanderol dengan harga yang jauh lebih tinggi dibandingkan batik dari daerah lain. Lantas, apa yang membuatnya begitu eksklusif?

Berdasarkan penelusuran di berbagai sentra kerajinan, setidaknya ada tiga faktor utama yang menyebabkan harga Batik Banten melambung di pasaran.

1. Filosofi dan Rekonstruksi Sejarah yang Rumit

BACA JUGA:Berkah HPN 2026, Hotel di Serang dan Cilegon Banjir Tamu dari Seluruh Indonesia

Berbeda dengan motif batik lain yang muncul dari imajinasi kontemporer, motif Batik Banten adalah hasil rekonstruksi arkeologis. Motif-motif seperti Pancaniti, Pasulaman, dan Surosowan diambil dari ragam hias benda purbakala (artefak terweng) yang ditemukan dalam penggalian di situs Keraton Surosowan.

Proses riset yang melibatkan sejarawan dan arkeolog inilah yang memberikan nilai "intelektual" pada setiap helai kainnya. Membeli Batik Banten berarti membeli potongan sejarah Kesultanan Banten yang sempat hilang.

2. Proses Produksi "Tulis" yang Memakan Waktu

Meskipun terdapat versi cap yang lebih terjangkau, identitas utama Batik Banten terletak pada Batik Tulis.

Ketelitian Tinggi: Penggunaan canting untuk menorehkan lilin membutuhkan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan untuk satu helai kain.

Bahan Baku Premium: Umumnya menggunakan kain sutra atau katun primissima kualitas tertinggi yang mampu menyerap warna dengan sempurna.

3. Karakteristik Warna "Dull" yang Khas

Batik Banten memiliki ciri khas warna yang tidak mencolok (soft/pastel). Untuk mendapatkan warna-warna seperti abu-abu kecokelatan atau kuning gading yang stabil dan tidak luntur, diperlukan proses pewarnaan berkali-kali (lorod). Banyak pengrajin di Banten mulai beralih kembali ke pewarna alami yang ramah lingkungan, namun prosesnya jauh lebih lama dan bahan bakunya lebih mahal dibandingkan pewarna kimia.

Harapan Pengrajin

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: