Siswa SLB Negeri 3 Kota Bengkulu Rutin Gelar Simulasi Hadapi Gempa

Siswa SLB Negeri 3 Kota Bengkulu Rutin Gelar Simulasi Hadapi Gempa

Siswa SLB Negeri 3 Kota Bengkulu Rutin Gelar Simulasi Hadapi Gempa-Riski/MC-radarbengkulu

radarbengkuluonline.id  - ​Kesadaran akan pentingnya mitigasi bencana rupanya sudah mendarah daging bagi para siswa di SLB Negeri 3 Kota Bengkulu.

Sebagai wilayah yang berada di jalur ring of fire, sekolah ini rutin membekali murid-muridnya dengan simulasi kebencanaan. Mulai dari gempa bumi hingga kebakaran. Setidaknya dua kali dalam enam bulan. Hal unik yang diterapkan di sini adalah penggunaan sistem peringatan khusus berupa sirine dan lampu merah yang dipasang di ruang kelas tuna rungu agar mereka bisa merespons dengan cepat.

BACA JUGA:Siap Mudik, Ini Daftar Tarif Tiket Lebaran PO SAN Sudah Rilis


​Prosedur penyelamatan di sekolah ini dirancang agar anak-anak tidak panik saat situasi darurat benar-benar terjadi. Simulasi bahkan sering dilakukan secara mendadak untuk menguji refleks spontan para murid saat mereka sedang fokus belajar di kelas.

Selain praktik lapangan, pihak sekolah juga menghiasi dinding dengan poster-poster edukatif yang berisi langkah-langkah penyelamatan agar para siswa hafal prosedur di luar kepala.


​"Kalau bunyi sirine dan lampu merah menyala di ruang kelas tuna rungu, spontan anak-anak akan lari melindungi kepala dengan tangan dan tas. Kemudian mereka akan bersembunyi di bawah meja belajar," jelas Yulia Anita Staf Tata Usaha SLB Negeri 3 Kota Bengkulu.


​Meski simulasi berjalan rutin, tantangan dalam pemeliharaan alat tetap ada. Seperti perlunya perawatan pada lampu peringatan dan pembaruan poster informasi. Di sisi lain, praktisi kebencanaan mencatat bahwa konsistensi yang ditunjukkan oleh SLB Negeri 3 ini tergolong istimewa.

Hal ini dikarenakan dari sekian banyak sekolah yang mendapatkan program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), hanya segelintir yang tetap menjalankan proses mitigasi secara berkelanjutan.


​"Ini menjadi tantangan, bagaimana agar sekolah-sekolah lain juga bisa konsisten menjalankan simulasi dan pemeliharaan alat deteksi dini bencana secara berkelanjutan," tegas Agus Widianto, Praktisi Kebencanaan Bengkulu.


​Semangat kesiapsiagaan ini diharapkan tidak hanya berhenti di satu sekolah saja, melainkan menjadi pemicu bagi instansi pendidikan lainnya di Bengkulu untuk lebih peduli terhadap mitigasi.

Dengan dukungan anggaran yang tepat dan kolaborasi antara pemerintah serta BMKG, aksi nyata di lapangan seperti yang dilakukan SLB Negeri 3 bisa menjadi standar keamanan bagi seluruh siswa di daerah rawan bencana. 

 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: