Berburu ‘Harta Karun’ di Panorama: Siasat Warga Lebaran Modis dengan Kantong Tipis
Berburu ‘Harta Karun’ di Panorama: Siasat Warga Lebaran Modis dengan Kantong Tipis-Muharrom Afdoli-radarbengkulu
radarbengkuluonline.id – Menjelang perayaan Idul Fitri 1447 H yang jatuh pada akhir Maret 2026, geliat ekonomi di Pasar Panorama, Kota Bengkulu mulai menunjukkan lonjakan aktivitas yang tidak biasa.
Bukan hanya lapak daging dan bumbu dapur yang diserbu, lorong-lorong sempit penjual pakaian bekas layak pakai atau yang populer disebut thrifting kini menjadi primadona bagi warga yang ingin tampil modis di hari raya tanpa harus menguras tabungan.
BACA JUGA:Siap Mudik, Ini Daftar Tarif Tiket Lebaran PO SAN Sudah Rilis
Fenomena ini menjadi potret nyata bagaimana masyarakat menyiasati tekanan ekonomi. Di tengah fluktuasi harga kebutuhan pokok yang cenderung naik menjelang lebaran, anggaran untuk sandang seringkali menjadi pos pertama yang dipangkas. Namun, tradisi mengenakan pakaian baru saat lebaran yang sudah mengakar kuat membuat aktivitas thrifting menjadi jalan tengah yang rasional.
Pantauan di lapangan pada Sabtu (7/3/2026) menunjukkan puluhan warga, didominasi oleh remaja dan ibu rumah tangga, nampak telaten memilah tumpukan pakaian di lapak-lapak Pasar Panorama. Suara teriakan pedagang yang menawarkan "celana 35 baju 10 ribu baru bongkar bal" bersahutan dengan riuh tawar-menawar pembeli.
BACA JUGA:Alhamdulillah, Prodi KPI UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu Raih Akreditasi Unggul
Seorang pengunjung, Rini Anggraini (22) mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Bengkulu, mengaku sengaja datang lebih awal ke Pasar Panorama untuk mencari kemeja dan celana bahan bermerek. Menurutnya, berbelanja pakaian bekas bukan lagi hal yang memalukan, melainkan sebuah gaya hidup yang cerdas secara finansial.
"Kalau beli di mal, satu kemeja bermerek bisa kena Rp 400 ribu ke atas. Di sini, dengan uang yang sama, saya bisa dapat tiga sampai empat potong baju yang kualitas kainnya masih sangat bagus. Bahkan ada yang merek terkenal dunia," ujar Rini.
Bagi para ibu rumah tangga, thrifting adalah penyelamat anggaran domestik. Nurma (42), warga Kelurahan Panorama, memilih membelikan baju lebaran untuk ketiga anaknya di pasar ini agar sisa uang belanja bisa dialokasikan untuk membeli bahan kue dan daging rendang.
"Harga kebutuhan pokok sekarang sedang tinggi-tingginya. Kalau semua dipaksakan beli baju baru di toko, uangnya tidak cukup untuk makan enak di hari lebaran nanti. Di sini asalkan sabar mencari dan pintar menawar, anak-anak tetap bisa tampil rapi saat silaturahmi nanti," ungkap Nurma.
Meskipun menjadi solusi ekonomi, jurnalisme media cetak perlu mengingatkan aspek kesehatan dalam aktivitas ini. Para pedagang dan pembeli di Pasar Panorama sudah mulai sadar akan pentingnya kebersihan. Rahman menyarankan para pembelinya untuk merendam pakaian yang dibeli dengan air panas dan disinfektan sebelum digunakan.
Sosiolog lokal berpendapat bahwa tren thrifting menjelang lebaran 2026 ini bukan sekadar fenomena musiman, melainkan bentuk adaptasi masyarakat terhadap kondisi ekonomi global yang belum stabil. Keberadaan Pasar Panorama sebagai wadah ekonomi kerakyatan membuktikan bahwa masyarakat memiliki daya tahan (resilience) yang tinggi dalam menjaga tradisi di tengah keterbatasan.
Menjelang senja, aktivitas di lorong pakaian bekas Pasar Panorama belum juga surut. Bagi masyarakat, tumpukan baju bekas tersebut adalah harapan. Harapan untuk tetap bisa merayakan hari kemenangan dengan penuh percaya diri tanpa harus terjerat utang atau beban finansial yang berat setelah lebaran usai.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
