Adu Penalti, PSG Juara Liga Champions Lagi
PSG juara Liga Champions, Luis Enrique puji pertahanan Arsenal. Foto: Luis Enrique mengangkat trofi Liga Champions di Puskas Arena, Budapest, 31 Mei 2026-Tim Redaksi/Ist-radarbengkulu
radarbengkuluonline.id, Jakarta - Paris Saint-Germain (PSG) berhasil meraih gelar Liga Champions dua kali beruntun. Ousmane Dembele dkk mengalahkan Arsenal melalui adu penalti pada final di Puskas Arena, Budapest, pada Sabtu, 30 Mei 2026 WIB.
Seperti dikutip dari laman harian disway, Les Parisiens (julukan PSG) menjadi juara setelah menang 4-3 dalam babak adu penalti. Sebelumnya, kedua tim bermain imbang 1-1 hingga akhir babak perpanjangan waktu.
BACA JUGA:Masih Ada Waktu, Pendaftaran BIB Kemenag Diperpanjang hingga 5 Juni 2026
Arsenal mengejutkan PSG dengan gol cepat Kai Havertz pada menit keenam. Namun, sang juara bertahan berhasil menyamakan kedudukan melalui penalti Ousmane Dembele pada menit ke-64. Meski berhasil meraih gelar Liga Champions kedua secara beruntun, pelatih PSG Luis Enrique mengakui bahwa timnya menghadapi pertandingan yang sulit melawan Arsenal.
Ketika wawancara usai pertandingan, Enrique memberikan pujian terhadap organisasi pertahanan yang diperagakan pasukan Mikel Arteta sepanjang laga. "Kami sangat menderita. Kami menghadapi tim-tim kuat sepanjang perjalanan di Eropa dan kami pantas memenangkan trofi ini," ujar Enrique ketika diwawancarai oleh CBS Sports.
"Saat menghadapi tim seperti Arsenal yang dilatih Mikel Arteta, mereka tahu bagaimana bertahan dengan sangat baik. Mereka beruntung karena mampu mencetak gol dari salah satu peluang awal yang mereka miliki," tambahnya.
"Setelah itu mereka bertahan dengan sangat dalam dan sangat disiplin. Sangat sulit untuk membongkar pertahanan seperti itu," lanjut pelatih asal Spanyol tersebut.
Kata Enrique, perubahan permainan PSG pada babak kedua menjadi kunci keberhasilan mereka menyamakan kedudukan. Ia mengungkapkan bahwa timnya mulai lebih efektif memanfaatkan area sayap untuk membongkar pertahanan Arsenal yang sangat rapat. Strategi menyerang melalui sisi lapangan terbukti efektif. Khvicha Kvaratskhelia beberapa kali menjadi ancaman dari sektor kiri. Tekanan winger asal Georgia itu akhirnya membuahkan hasil setelah ia dijatuhkan Cristhian Mosquera di area terlarang.
PSG dihadiahi penalti. Dembele kemudian menjalankan tugasnya dengan sempurna dari titik putih, dan menyamakan kedudukan. Gol itu jadi modal untuk perpanjangan waktu. Meski Arsenal menunjukkan pertahanan yang luar biasa sepanjang pertandingan, mereka kesulitan ketika menguasai bola.
Berdasarkan data pertandingan, Arsenal hanya mencatatkan penguasaan bola sebesar 24,7 persen. Statistik tersebut menjadi angka terendah yang pernah dicatat sebuah tim di final Liga Champions sejak musim 2003/2004 menurut data Opta. Catatan tersebut juga menjadi persentase penguasaan bola terendah Arsenal ketika bermain dengan 11 pemain selama era kepelatihan Mikel Arteta.
Arsenal memang tampil heroik dalam bertahan dan mampu memaksa pertandingan hingga adu penalti. Namun, minimnya penguasaan bola membuat mereka kesulitan memberikan tekanan berkelanjutan kepada lini pertahanan PSG. Pada akhirnya, kegagalan Eberechi Eze dan Gabriel Magalhaes dalam adu penalti membuat impian Arsenal meraih gelar Liga Champions pertama dalam sejarah klub harus kembali tertunda.
Sementara itu, kemenangan PSG membuat Luis Enrique mencatatkan sejarah baru. Ia menjadi pelatih kedua setelah Zinedine Zidane yang mampu memenangkan Liga Champions dua musim beruntun. Menariknya, ketika mantan bek Manchester City, Micah Richards, bercanda dengan menyebut peluang PSG meraih tiga gelar Liga Champions beruntun, Enrique hanya tertawa. "Semoga saja!" jawab Enrique, lantas tersenyum.
Jawaban singkat tersebut langsung disambut tawa para panelis dan menunjukkan bahwa PSG kini mulai membidik dominasi baru di sepak bola Eropa.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
