Mengubah Cara Pandang Generasi Gen Z Terhadap Dunia Pertanian

Mengubah Cara Pandang Generasi Gen Z Terhadap Dunia Pertanian

Mengubah Cara Pandang Generasi Gen Z Terhadap Dunia Pertanian-Ist-

 

 

RADAR BENGKULU - Generasi Z, yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012, tumbuh di era digital yang serba cepat, penuh kemudahan teknologi, dan diwarnai oleh gaya hidup urban yang dinamis dan kosmopolitan. Mereka terbiasa dengan layar sentuh, algoritma media sosial, platform streaming, serta berbagai kemudahan yang membuat jarak antara mereka dengan kehidupan agraris semakin melebar dari hari ke hari. Tidak mengherankan jika sebagian besar dari mereka memandang pertanian sebagai profesi yang kuno, melelahkan, identik dengan kemiskinan, dan tidak menjanjikan secara finansial di era persaingan global yang ketat ini. Padahal, sektor pertanian adalah tulang punggung ketahanan pangan bangsa yang tidak bisa diabaikan begitu saja demi kepentingan jangka pendek semata. Sudah saatnya kita semua, termasuk para pendidik, pembuat kebijakan, influencer digital, dan komunitas anak muda, bersatu untuk mengubah narasi tersebut agar generasi penerus bangsa mau melirik, menghargai, dan akhirnya mencintai dunia pertanian sebagai pilihan hidup yang bermakna dan membanggakan.

 

Data menunjukkan bahwa minat generasi muda terhadap sektor pertanian terus menurun secara signifikan dalam beberapa dekade terakhir dan perlu segera mendapat perhatian serius. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023, jumlah petani muda berusia 15 hingga 34 tahun hanya mencakup sekitar 8,47 persen dari total petani di Indonesia yang berjumlah lebih dari 33 juta orang. Sementara itu, rata-rata usia petani Indonesia saat ini sudah mencapai 45 tahun ke atas, yang mengindikasikan adanya ancaman serius berupa krisis regenerasi petani dalam jangka panjang yang berpotensi mengganggu ketahanan pangan nasional. Kondisi ini diperparah dengan fakta bahwa luas lahan pertanian terus menyusut akibat alih fungsi lahan untuk keperluan industri dan perumahan, sementara kebutuhan pangan nasional terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk yang mencapai 277 juta jiwa pada tahun 2023. Jika tren penurunan minat ini dibiarkan berlangsung tanpa intervensi yang tepat dan terencana, Indonesia benar-benar terancam menghadapi defisit pangan yang serius pada beberapa dekade mendatang.

 

Persoalan regenerasi petani ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan kampanye sederhana atau sekadar ajakan masuk ke sektor pertanian secara konvensional yang sudah tidak relevan lagi di era sekarang. Generasi Z membutuhkan narasi baru yang segar dan relevan dengan nilai-nilai serta cara hidup mereka yang dinamis, inovatif, dan berorientasi pada makna serta dampak nyata bagi lingkungan dan masyarakat sekitar. Mereka adalah generasi yang tumbuh dengan kepedulian tinggi terhadap isu perubahan iklim, keberlanjutan ekosistem, keadilan sosial, dan dampak nyata dari setiap pilihan hidup yang mereka ambil setiap harinya. Pertanian sejatinya menawarkan semua hal tersebut secara sekaligus, mulai dari pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab dan terukur, produksi pangan yang berkelanjutan, hingga pemberdayaan komunitas lokal di tingkat akar rumput. Yang perlu diubah secara mendasar adalah cara menyampaikan pesan tersebut agar dapat diterima dan menginspirasi generasi yang tumbuh bersama YouTube, TikTok, dan berbagai platform digital.

 

Teknologi pertanian modern atau yang dikenal luas dengan istilah agritech telah membuka babak baru yang jauh lebih menarik dan menggairahkan bagi generasi muda Indonesia masa kini. Berbagai inovasi mutakhir seperti pertanian presisi berbasis data besar, penggunaan drone untuk pemantauan lahan secara real-time, sistem irigasi otomatis berbasis Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan untuk prediksi cuaca dan serangan hama, serta budidaya tanaman hidroponik dan pertanian vertikal telah mengubah wajah pertanian menjadi jauh lebih futuristik dan efisien. Di Indonesia sendiri, ekosistem startup agritech kian berkembang pesat dengan nilai investasi sektor ini mencapai lebih dari 500 juta dolar AS pada periode 2020 hingga 2023 menurut laporan riset DSInnovate. Platform digital seperti TaniHub, eFishery, dan Aruna telah membuktikan secara nyata bahwa teknologi dan pertanian bisa berpadu menjadi bisnis bernilai tinggi yang mampu bersaing di pasar global. Semangat inovasi inilah yang seharusnya menjadi jembatan nyata antara dunia digital yang sangat akrab bagi Gen Z dan sektor pertanian yang selama ini keliru dianggap ketinggalan zaman.

 

Pendidikan memainkan peran yang sangat krusial dan strategis dalam proses transformasi cara pandang generasi muda terhadap dunia pertanian yang sesungguhnya penuh dengan potensi besar ini. Kurikulum sekolah menengah dan perguruan tinggi perlu secara sistematis memasukkan muatan pertanian modern yang lebih kontekstual, berbasis proyek nyata, dan selaras dengan perkembangan ilmu pengetahuan serta kebutuhan industri agrikultur masa depan. Program seperti urban farming komunal, komunitas agropreneur muda, dan program magang intensif di perusahaan agritech terkemuka perlu diperluas jangkauannya serta dipromosikan secara masif kepada kalangan pelajar dan mahasiswa di seluruh wilayah Indonesia. Selain itu, kisah sukses petani muda yang berhasil meraup pendapatan besar melalui pertanian digital dan inovatif harus dikemas menjadi konten inspiratif yang dapat menyebar luas di platform media sosial. Sebuah studi komprehensif dari Food and Agriculture Organization (FAO) tahun 2022 menyebutkan bahwa intervensi pendidikan berbasis praktik dan kewirausahaan terbukti meningkatkan minat generasi muda terhadap sektor pertanian hingga 35 persen di negara-negara berkembang kawasan Asia Tenggara.

 

Pemerintah juga memegang tanggung jawab yang amat besar dalam mendorong perubahan paradigma ini melalui kebijakan yang benar-benar berpihak pada petani muda dan ekosistem agritech nasional yang sedang tumbuh. Program Kredit Usaha Rakyat (KUR) pertanian, subsidi benih unggul dan pupuk berimbang, serta kemudahan akses terhadap lahan pertanian produktif bagi generasi muda perlu terus diperkuat dan disederhanakan dari sisi prosedur birokrasi yang masih terasa panjang dan rumit. Kementerian Pertanian RI sendiri telah meluncurkan program Youth Agropreneurship yang ambisius dengan menargetkan lahirnya 2,5 juta petani muda modern pada tahun 2024 sebagai wujud nyata keseriusan pemerintah dalam mengatasi masalah regenerasi. Sinergi yang erat dan berkelanjutan antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, akademisi, sektor swasta, dan komunitas petani muda perlu dibangun secara sistematis dan terprogram agar ekosistem pertanian yang inklusif terwujud. Tanpa kolaborasi lintas sektor yang terstruktur dan berkesinambungan, semua upaya mendorong Gen Z masuk ke pertanian hanya akan berakhir sebagai wacana tanpa dampak berarti.

 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: