Gus Rozin: Abad Kedua NU Harus Berdaulat, Bermartabat, dan Bermanfaat
Gus Rozin: Abad Kedua NU Harus Berdaulat, Bermartabat, dan Bermanfaat-Ist-
RADAR BENGKULU - Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35 di Jombang, KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin menawarkan visi besar membangun NU yang berdaulat, bermartabat, dan bermanfaat sebagai arah transformasi organisasi NU memasuki abad kedua.
Berbekal pengalaman panjang di pesantren, organisasi, dan pemerintahan, Gus Rozin menilai bahwa momentum pergantian kepemimpinan harus menjadi kesempatan memperkuat jam'iyyah agar semakin mampu melayani jamaah, menjaga persatuan, dan menghadirkan kemaslahatan bagi Indonesia serta dunia.
Lahir dan dibesarkan dalam tradisi keilmuan dan keorganisasian, Gus Rozin ditempa langsung oleh KH MA Sahal Mahfudh, Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tahun 1999–2014, dengan etos bahwa ilmu harus melahirkan kemaslahatan.
Perjalanan intelektualnya membentang dari pesantren, perguruan tinggi Islam, hingga Monash University, Australia. Pengalaman tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai amanah strategis, mulai dari pengembangan lembaga pendidikan pesantren, Ketua RMI PBNU, Katib Syuriyah PBNU, Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah, hingga mengemban sejumlah tugas di tingkat nasional, termasuk sebagai Ketua Majelis Masyayikh.
Rekam jejak tersebut memperlihatkan corak kepemimpinan Gus Rozin yang memadukan kekuatan tradisi pesantren, pengalaman mengelola organisasi, serta kemampuan membangun kolaborasi di tingkat nasional maupun internasional.
Berangkat dari pengalaman tersebut, Gus Rozin menawarkan visi:
"Terwujudnya Nahdlatul Ulama sebagai Jam'iyyah Diniyyah Ijtima'iyyah yang ta'aluf, berdaulat, bermartabat, dan bermanfaat dalam mewujudkan kemaslahatan umat, bangsa, dan peradaban dunia berdasarkan Qanun Asasi, Khittah Nahdlatul Ulama 1926, serta Ahlussunnah wal Jama'ah an-Nahdliyyah."
Menurutnya, transformasi NU pada abad kedua bukan berarti meninggalkan jati diri organisasi, melainkan memperkuat fondasi yang diwariskan para muassis agar mampu menjawab perubahan sosial, politik, ekonomi, dan teknologi.
Visi tersebut kemudian dijabarkan melalui tiga arah utama transformasi, yakni membangun NU yang berdaulat dalam mengelola organisasi, bermartabat dalam memimpin, dan bermanfaat dalam setiap khidmah.
Ketiga arah transformasi tersebut diwujudkan melalui tiga pilar utama:
1. Membangun NU yang berdaulat melalui tata kelola organisasi yang profesional, mandiri, dan bertumpu pada partisipasi jamaah.
2. Menghadirkan kepemimpinan yang bermartabat, berlandaskan integritas, akhlak, musyawarah, dan penghormatan terhadap tradisi keulamaan serta persatuan organisasi.
3. Memastikan NU semakin bermanfaat melalui penguatan pendidikan, pesantren, ekonomi, kesehatan, filantropi, ilmu pengetahuan, dan pelayanan sosial hingga tingkat ranting.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
