Kaum Muslimin Jamaah Jumat yang berbahagia,
Imam Ibnu Katsir di dalam tafsirnya menjelaskan, bahwa suatu ketika Umar bin Khathab RA bertanya kepada seorang sahabat bernama Ubay bin Ka’ab RA tentang taqwa.
Walaupun istilah taqwa tersebut merupakan sesuatu yang sudah sangat mereka ketahui, namun bertanya satu sama lain diantara mereka dalam rangka lebih mendalami maknanya adalah hal yang sangat lumrah dan mereka sukai.
Ubay bin Ka’ab lalu balik bertanya: “Wahai Umar, pernahkah engkau melewati jalan yang penuh duri ?,” Umar bin Khathab menjawab.
"Ya, saya pernah melewatinya.”
Kemudian Ubay bertanya lagi: “Apa yang akan engkau lakukan saat itu?''
Umar menjawab: “Saya akan berjalan dengan sangat berhati-hati, agar tak terkena duri itu.”
Lalu Ubay berkata: “Itulah takwa.”
Dari riwayat ini kita dapat mengambil sebuah pelajaran penting, bahwa taqwa adalah kewaspadaan diri, rasa takut kepada Allah SWT. Kesiapan diri. Kehati-hatian agar tidak mudah terjebak dalam duri-duri syahwat di tengah perjalanan menuju Allah SWT.
Menghindarkan diri dari perbuatan syirik, dan sekuat tenaga meninggalkan perbuatan maksiat dan dosa, serta berjuang sungguh-sungguh dalam menaati dan melaksanakan perintah-perintah Allah SWT dengan hati yang tunduk dan ikhlas.
Hadirin Jamaah Jumat rahimakumullah,
Setiap orang yang beriman pasti menyadari bahwa kehidupan di muka bumi ini bukanlah tanpa batasan waktu. Setiap orang menjalani kehidupan sesuai kontraknya masing-masing dalam batas waktu yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.
Umur manusia berbeda satu dengan lainnya. Begitu pun amal dan perbuatannya. Setiap mukmin akan menyadari bahwa ia tidak akan selamanya hidup dan tinggal di dunia ini; bahwa keberadaannya di alam ini hakikatnya sedang menempuh proses perjalanan panjang menuju kehidupan akhirat yang kekal dan hakiki.