Memohon Dijauhkan dari Hati yang Mati

Jumat 27-06-2025,00:08 WIB
Reporter : Adam
Editor : Azmaliar Zaros

 

Imam Ibnu Athaillah dalam Matan Al-Hikam-nya menyebutkan tanda hati seseorang yang sedang mati. Artinya, “Salah satu kematian hati adalah tidak adanya kesedihan atas kesempatan ibadah yang terlewat dan tidak adanya penyesalan atas kekhilafan yang pernah dilakukan.”

Demikian ini, sama halnya dengan apa yang dijelaskan Syekh Ibnu Ajibah. Namun, beliau menambahkan satu lagi tanda hati yang sudah mati. Pertama, tidak bersedih atas kesempatan ibadah yang terlewat. Kedua, tidak menyesali perbuatan buruk yang telah dilakukan. Ketiga bersahabat dengan orang-orang lalai yang juga mati hatinya.

 

Hadirin jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Tanda-tanda yang disebutkan Imam Ibnu Athaillah dan Syekh Ibnu Ajibah itu jangan-jangan semuanya ada pada diri kita tanpa kita sadari. Atau salah satu diantara ketiganya kerap kita lewati begitu saja, tanpa tahu bahwa sesungguhnya hati ini sudah mati. Naudzubillahi min dzalik.

Mari kita selalu memohon kepada Allah agar senantiasa diberikan kemudahan dalam menjalankan perintah-perintah-Nya dan mudah pula untuk meninggalkan segala larangan-larangan-Nya. Manusia tentu saja memiliki dosa kepada Allah Swt. Dosa kecil ataupun dosa besar. Disengaja atau tidak. Tapi ingat bahwa rahmat dan ampunan Allah Swt tidak ada habisnya.

 

Satu hal yang paling penting di balik kesalahan-kesalahan yang barangkali terlanjur sudah kita lakukan, yaitu berikhtiar sekuat tenaga menjaga hati ini agar tidak mati. Kita jaga agar terus hidup. Karena dengan begitu, jalan tobat selalu terbuka untuk kita semua, di manapun, dalam kondisi bagaimanapun, dan kapanpun. Syukur-syukur dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.

Sahabat Abu Musa Al-Asy’ari RA meriwayatkan sebuah hadits Nabi Muhammad Saw tentang perbedaan orang yang hatinya hidup dan orang yang hatinya mati, kering, dan gelap.  Artinya, “Dari Abu Musa Al-Asy’ari ra, Rasulullah Saw bersabda, ‘Siapa saja yang merasa senang oleh kebaikannya dan merasa susah oleh keburukannya, maka ia adalah orang yang beriman.’” (HR At-Thabarani).

 

Dalam hadits lain disebutkan: Artinya, "Dari Abdullah bin Mas’ud ra berkata, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya seorang Mukmin (ketika) ia melihat dosa-dosanya, adalah seperti (ketika) ia duduk di lereng sebuah gunung, dan ia sangat khawatir gunung itu akan menimpanya. Sedangkan seorang fajir (munafik), ketika ia melihat dosa-dosanya adalah seperti ia melihat seekor lalat yang hinggap di batang hidungnya, kemudian ia mengusirnya seperti ini (apa ini, pergi!) lalu terbang (ia menganggap remeh dosa).” (HR. Bukhari)

 

Hadirin jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Sekali lagi, kita sama-sama mengingatkan bahwa ampunan Allah demikian luas. Allah Swt juga memiliki sifat kasih sayang yang tentu jauh melebihi dari semua makhluk ciptaan-Nya.

Untuk itu, tidak ada kata terlambat bagi kita semua memohon ampun dan bertobat kepada Allah dengan tobat nashuhah. Termasuk bila hati ini sedang atau sempat mati, mari kita hidupkan kembali.

Kategori :

Terkait

Jumat 16-01-2026,00:22 WIB

Bahaya Hati yang Jauh dari Allah

Jumat 19-12-2025,00:10 WIB

Tiga Hal Tentang Hati

Jumat 12-12-2025,00:55 WIB

Tawadhu atau Rendah Hati

Jumat 17-10-2025,00:30 WIB

Menjaga Kelembutan Hati