“Kita punya sistem pemantauan harga yang real-time, jadi jika ditemukan gejolak di satu daerah, stok langsung kita dorong ke sana untuk intervensi.”
Dody juga mengimbau masyarakat agar tidak panik atau menimbun beras karena stok yang dimiliki Bulog Bengkulu dinilai sangat mencukupi untuk kebutuhan sampai akhir tahun, bahkan jika terjadi lonjakan permintaan.
BACA JUGA:Ini Dia Strategi Baru TPID Provinsi Bengkulu Untuk Tekan Inflasi
“Stok beras kita aman. Tidak hanya cukup untuk enam bulan ke depan, tapi juga siap jika ada kebutuhan darurat. Jadi masyarakat tidak perlu khawatir soal ketersediaan,” ujarnya.
Program SPHP tak sekadar bicara kuantitas, tapi juga kepercayaan publik terhadap pemerintah dalam menghadirkan solusi nyata saat harga bahan pokok melonjak. Terlebih, beras merupakan bahan pokok paling sensitif yang berdampak langsung terhadap inflasi dan kesejahteraan masyarakat kelas menengah ke bawah.
BACA JUGA:Peringkat Empat, Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme Provinsi Bengkulu Gelar Rembuk Merah Putih
“Kami percaya, jika harga beras stabil, maka kepercayaan masyarakat terhadap negara akan meningkat. Karena itulah kami serius menjalankan tugas ini.”
Melalui program SPHP ini, Bulog juga berharap tercipta distribusi pangan yang lebih adil dan merata hingga ke pelosok desa. Di saat bersamaan, kehadiran Bulog sebagai stabilisator pasar terus diperkuat—bukan hanya di tataran kebijakan, tapi nyata di lapangan.
BACA JUGA:Tingkatkan PAD, DPRD Provinsi Bengkulu Buka Peluang Objek Pajak Baru
Dengan upaya masif ini, Provinsi Bengkulu optimistis mampu menjaga stabilitas pangan hingga akhir tahun. Penyaluran beras SPHP menjadi tonggak penting dalam memastikan tak ada masyarakat yang kesulitan mendapatkan bahan pokok, sekaligus menahan laju inflasi yang bisa menggerus daya beli.
“Bersama semua pihak, kita jaga dapur rakyat tetap hangat,” tutur Dody.