Oleh: Gizka Zaira
Mahasiswa Universitas Dharmas Indonesia
RADAR BENGKULU – Media sosial hari ini telah bertransformasi menjadi etalase kehidupan. Di sana, pencapaian, gaya hidup, dan kemewahan dipamerkan tanpa jeda. Bagi remaja, ruang digital ini bukan sekadar tempat berbagi cerita, melainkan arena pembentukan identitas dan pengakuan sosial. Salah satu fenomena yang menonjol dalam lanskap ini adalah budaya flexing—kecenderungan memamerkan apa yang dianggap bernilai dan mengesankan di hadapan publik.
Sekilas, flexing tampak sebagai hal yang lumrah. Setiap orang tentu ingin berbagi kebahagiaan dan keberhasilannya. Namun, ketika flexing berubah menjadi standar sosial yang terus direproduksi, persoalannya menjadi lebih serius. Terutama bagi remaja yang masih berada pada fase pencarian jati diri, budaya ini diam-diam membentuk tekanan psikologis yang kerap tidak disadari.
Algoritma media sosial turut mempercepat tumbuhnya budaya flexing. Konten yang menampilkan kemewahan, penampilan sempurna, dan gaya hidup glamor cenderung lebih disukai dan disebarluaskan. Likes, komentar, dan jumlah pengikut menjadi mata uang sosial baru. Dari sinilah remaja belajar bahwa nilai diri dapat diukur dari seberapa menarik hidup mereka di layar ponsel. Perlahan, validasi eksternal menggantikan kepercayaan diri yang seharusnya tumbuh dari dalam.
Paparan flexing yang berulang membuat remaja terjebak dalam budaya perbandingan. Mereka membandingkan kehidupan nyata dengan potongan-potongan kehidupan orang lain yang telah dikurasi sedemikian rupa. Padahal, apa yang tampil di media sosial hanyalah fragmen terbaik—tanpa konflik, tanpa kegagalan, tanpa luka. Perbandingan yang timpang ini melahirkan rasa tidak cukup: tidak cukup sukses, tidak cukup menarik, tidak cukup bahagia.
Lebih jauh, flexing membentuk narasi keliru tentang nilai manusia. Remaja mulai percaya bahwa harga diri ditentukan oleh apa yang bisa ditampilkan—barang bermerek, liburan mahal, atau pencapaian yang terlihat prestisius. Tak sedikit yang kemudian memaksakan diri mengikuti standar tersebut, bahkan dengan mengorbankan kondisi finansial keluarga. Dari sinilah flexing bergeser dari sekadar tren menjadi tekanan sosial yang nyata.
Dampaknya terhadap kesehatan mental pun tidak bisa diabaikan. Rasa cemas, rendah diri, hingga kelelahan emosional menjadi bayang-bayang yang kerap menyertai. Remaja yang merasa hidupnya “biasa saja” di tengah banjir pencitraan digital berisiko mengalami stres berkepanjangan dan kehilangan rasa syukur. Ironisnya, alih-alih menjauh, mereka justru semakin tenggelam dalam media sosial, berharap menemukan pelarian dari perasaan tidak aman—sebuah lingkaran yang sulit diputus.
Namun, penting untuk ditegaskan bahwa flexing tidak sepenuhnya salah. Dalam batas tertentu, membagikan kebahagiaan dan pencapaian adalah hal yang manusiawi. Yang menjadi masalah adalah ketika flexing dipahami sebagai kewajiban sosial dan tolok ukur nilai diri. Media sosial sejatinya adalah ruang berbagi, bukan panggung pembuktian.
Kesadaran inilah yang perlu dibangun. Remaja perlu dibekali literasi digital agar mampu memilah realitas dan ilusi. Mereka perlu memahami bahwa kehidupan di balik layar jauh lebih kompleks daripada yang ditampilkan. Membatasi waktu bermedia sosial, memilih konten yang sehat, dan tidak menggantungkan harga diri pada respons digital adalah langkah-langkah kecil yang berdampak besar bagi kesehatan mental.
Peran keluarga dan sekolah juga krusial. Orang tua perlu hadir sebagai ruang aman bagi anak-anaknya—tempat mereka diterima tanpa syarat. Sekolah, melalui guru dan konselor, dapat menjadi garda depan edukasi kesehatan mental di era digital. Remaja yang tumbuh dalam lingkungan suportif akan lebih kuat menghadapi tekanan budaya flexing.
Pada akhirnya, flexing adalah fenomena yang mungkin tak akan hilang dari media sosial. Namun cara kita memaknainya dapat berubah. Ketika remaja mulai memahami bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh apa yang tampak di layar, mereka akan lebih merdeka secara mental. Media sosial pun dapat kembali pada fungsinya: sebagai ruang berbagi, bukan ruang perbandingan. Dan di sanalah, kesehatan mental remaja bisa tetap terjaga di tengah hiruk-pikuk dunia digital.
BACA JUGA:DI BALIK DINDING PANTI ASUHAN : HARAPAN ANAK DAN REALITAS KEHIDUPAN YANG PERLU PERHATIAN