Penulis:
Nama : Aliya Fitria Firdausyi Al Mughni
Mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro, Prodi Ilmu Komunikasi
RADAR BENGKULU - Begitu iPhone 17 resmi diluncurkan, ruang digital langsung penuh. Timeline media sosial ramai oleh unboxing kilat, potongan spesifikasi, hingga perdebatan soal satu pertanyaan klasik: “Apakah iPhone 17 benar-benar layak dibeli?” Fenomena ini menunjukkan bahwa peluncuran iPhone 17 bukan sekadar peristiwa produk, melainkan juga peristiwa teknologi yang membentuk cara publik menilai dan bereaksi .
Menariknya, sebagian besar perdebatan itu terjadi bahkan sebelum banyak orang benar-benar menggunakan perangkat tersebut. Opini sudah terbentuk, sikap sudah mengeras, dan penilaian sudah beredar luas. Di titik ini, yang bekerja bukan hanya spesifikasi teknis, tetapi juga persepsi, narasi, dan cara pesan tentang produk diproses oleh publik.
Bagi sebagian orang, iPhone 17 dipandang sebagai bukti konsistensi inovasi dari Apple. Setiap peningkatan kamera, performa, dan efisiensi sistem dianggap relevan dengan kebutuhan masa kini. Kelompok ini cenderung membaca detail teknis, membandingkan performa dengan seri sebelumnya, serta mendiskusikan manfaat jangka panjang sebelum mengambil keputusan.
Namun, di sisi lain, tidak sedikit yang langsung mengambil sikap berdasarkan opini singkat, potongan video, atau komentar influencer. Bagi mereka, iPhone 17 lebih dulu hadir sebagai symbol bukan sebagai alat. Penilaian dibentuk cepat, sering kali tanpa proses pertimbangan yang mendalam.
Perbedaan cara menyikapi inilah yang dapat dijelaskan melalui Elaboration Likelihood Model (ELM), teori persuasi yang dikembangkan oleh Richard E. Petty dan John Cacioppo. Teori ini menjelaskan bahwa manusia memproses pesan melalui dua jalur utama: jalur sentral dan jalur periferal.
Pada jalur sentral, individu memproses pesan secara kritis dan mendalam. Mereka memperhatikan argumen, data, dan bukti. Dalam konteks iPhone 17, kelompok ini akan menelaah spesifikasi, membandingkan performa, serta mempertimbangkan apakah perangkat tersebut benar-benar sesuai dengan kebutuhan pribadi sebelum memutuskan membeli atau tidak.
Sebaliknya, jalur periferal bekerja lebih cepat dan dangkal. Keputusan dibentuk oleh isyarat sederhana seperti desain yang terlihat “mewah”, citra merek, status sosial pengguna, atau siapa yang merekomendasikan. Di sinilah peran influencer, tren FYP, dan opini viral menjadi sangat dominan. Banyak orang menilai iPhone 17 bukan dari apa yang ia tawarkan, tetapi dari bagaimana ia dibicarakan.
Media sosial mempercepat dominasi jalur periferal ini. Informasi datang dalam bentuk singkat, visual, dan emosional. Algoritma mendorong konten yang memancing reaksi cepat, bukan yang mengajak berpikir panjang. Akibatnya, opini tentang iPhone 17 sering kali terbentuk sebelum proses penilaian rasional sempat berlangsung.
Inilah yang membuat peluncuran iPhone 17 terasa begitu riuh. Perdebatan bukan hanya soal teknologi, tetapi juga soal identitas. Memiliki iPhone terbaru kerap dibaca sebagai simbol mengikuti perkembangan zaman, sementara memilih tidak membeli diasosiasikan dengan sikap kritis atau anti-arus utama. Padahal, keduanya sering kali hanya hasil dari jalur pemrosesan pesan yang berbeda.
Dalam konteks ini, iPhone 17 menjadi cermin cara kita mengonsumsi informasi. Apakah kita benar-benar mempertimbangkan kebutuhan, atau sekadar mengikuti arus percakapan digital? Apakah keputusan kita lahir dari pemahaman, atau dari dorongan untuk selaras dengan lingkungan sosial?
Opini ini tidak bertujuan menilai siapa yang paling tepat dalam menyikapi iPhone 17. Justru sebaliknya, peluncuran ini mengajak kita menyadari bahwa respons terhadap teknologi sangat dipengaruhi oleh cara pesan disampaikan dan diproses. Elaboration Likelihood Model mengingatkan bahwa tidak semua keputusan lahir dari pertimbangan yang sama dan itu sepenuhnya manusiawi.
Mungkin, di tengah gemuruh peluncuran iPhone 17, pertanyaan paling penting bukanlah “sudahkah kita membeli?”, melainkan “sudahkah kita benar-benar berpikir?”. Karena di era banjir informasi, kemampuan memproses pesan secara sadar bisa jadi lebih berharga daripada teknologi terbaru itu sendiri.