radarbengkuluonline.id – Kenaikan harga sejumlah bahan pokok di awal tahun 2026 dan menjelang bulan Ramadan mulai memukul sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kota Bengkulu.
Pantauan di kawasan Surabaya Permai, Kecamatan Sungai Serut, para pedagang sarapan pagi mulai mengeluhkan tingginya harga cabai rawit dan telur ayam yang menjadi komoditas utama jualan mereka.
BACA JUGA:Warga Senang, Pasar Murah Bantu Penuhi Kebutuhan Jelang Ramadan
Berdasarkan data lapangan, harga cabai rawit kini menyentuh angka yang cukup signifikan. Sementara harga telur ayam per karpet juga mengalami tren kenaikan dalam sepekan terakhir.
Kondisi ini membuat para pelaku UMKM berada di posisi sulit antara menaikkan harga jual atau mengurangi porsi.
BACA JUGA:Acara Puncak HPN 2026, Pers Sebagai Pondasi Pembangunan dan Penjaga Demokrasi
Sri Sudarmi (52) salah seorang pemilik warung nasi uduk dan lontong sayur di kawasan Surabaya Permai mengaku sangat terdampak dengan kenaikan ini. Menurutnya, cabai rawit adalah 'nyawa' dari sambal yang menjadi daya tarik dagangannya.
"Cabai rawit lagi mahal-mahalnya. Padahal itu bahan utama sambal. Telur juga naik terus harganya. Kalau saya naikkan harga porsi sarapan, saya takut pembeli lari. Tapi kalau tidak dinaikkan, untungnya habis buat beli bahan saja," keluh Sri saat ditemui di lapaknya, Senin (9/2).
Hal senada diungkapkan oleh pedagang sayur rumahan yang berada tak jauh dari lapak dagang Sri yang berharap pemerintah daerah segera melakukan intervensi pasar.
Menurut mereka, fluktuasi harga yang tidak menentu membuat perencanaan modal usaha menjadi berantakan.
Berikut adalah gambaran kenaikan harga rata-rata di tingkat pengecer sekitar Surabaya Permai: