radarbengkuluonline.id, Jakarta – Eskalasi militer kembali pecah di kawasan Teluk setelah pasukan Iran dan Amerika Serikat (AS) terlibat baku tembak hebat di Selat Hormuz pada Kamis malam hingga Jumat dini hari.
Seperti dikutip dari laman harian disway, ini adalah kontak senjata pertama sejak gencatan senjata yang sebelumnya telah disepakati kedua belah pihak sejak 8 April lalu.
BACA JUGA:Kabar Gembira! Gaji ke-13 PPPK Kota Bengkulu Siap Cair Juni 2026
Peristiwa pertempuran bermula saat Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran meluncurkan serangan gabungan berskala besar menggunakan rudal balistik anti-kapal, rudal penjelajah, dan drone peledak. Serangan tersebut ditujukan kepada tiga kapal perusak milik Angkatan Laut AS, yakni USS Truxtun, USS Mason, dan USS Rafael Peralta yang dilaporkan mencoba melintasi Selat Hormuz.
Dilansir dari Tasnim, pihak IRGC menyatakan bahwa operasi militer ini merupakan respons atas pelanggaran gencatan senjata oleh militer AS yang dituding melakukan agresi terhadap sebuah kapal tanker minyak Iran di dekat pelabuhan Jask. IRGC mengklaim serangan mereka berhasil memberikan kerusakan signifikan yang memaksa kapal-kapal AS mundur ke arah Laut Oman.
Akan tetapi, pernyataan berbeda dikeluarkan oleh Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM). Militer AS mengonfirmasi adanya serangan dari pihak Iran melalui rudal, drone, dan kapal cepat, tetapi mengklaim tidak ada satu pun kapal mereka yang terkena hitungan.
Kemudian, AS merespons serangan tersebut dengan melancarkan "serangan pertahanan diri" terhadap fasilitas militer di daratan Iran serta dua pelabuhan di dekat selat tersebut. Dampak dari serangan balasan AS dilaporkan memakan korban di pihak sipil. Mohammad Radmehr, pejabat di Provinsi Hormozgan, melaporkan bahwa serangan semalam menghantam sebuah kapal kargo Iran di dekat perairan Minab.
"Sepuluh pelaut yang terluka telah dievakuasi ke rumah sakit, sementara tim penyelamat masih mencari lima pelaut lainnya yang dinyatakan hilang setelah kapal terbakar," ujar Radmehr sebagaimana dikutip dari Kantor Berita Mehr.
Hingga berita ini diturunkan, situasi di Selat Hormuz dan Laut Makran dilaporkan masih tegang. Pertukaran api ini menghentikan jeda perang yang sempat bertahan selama satu bulan terakhir dan memicu kekhawatiran akan pecahnya konflik terbuka yang lebih luas di jalur perdagangan energi dunia tersebut.