Khutbah jumat
Khatib : Dr. H, Henderi Kusmidi, M.H.I
(Dosen UIN FAS Bengkulu & Imam Masjid Besar Jami’ Babusssalam Kota Bengkulu)
Disampaikan di : Masjid Al-Ikhlas Perumahan Az-Zahra Kelurahan Bentiring Permai Kecamatan Muara Bangkahulu Kota Bengkulu
Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah, mari kita panjatkan fuji dan syukur kehadirat Allah SWT atas nikmat kesehatan, iman, dan kesempatan berharga ini, sehingga kita bisa menunaikan shalat jumat pertama bulan dzulhijjah 1447 H. Sholawat dan dan salam kepada junjunga kita Nabi Besar Muhammad SAW. Juga tak lupa khatib berwasiat taqwa kepada diri saya sendiri dan jama’ah semuanya. Marilah kita tingkatkan kualitas dan kuantitas taqwa kita kepada Allah SWT. Selanjutnya khatib tak lupa berwasiat baik buat diri khatib sendiri maupun para jama’ah sekalian yang berhadir, sebagai komitmen kita yang merasa diri beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. Jama’ah rahimakumullah. Penyembelihan ini merupakan simbol tauhid (pengesahan hanya kepada Allah). Bahwasanya ibadah hanya milik Allah, bahwasanya ibadah murni hanya untuk Allah semata. Hakikat qurban dalam tasawuf adalah proses penyembelihan ego, hawa nafsu, dan sifat-sifat kebinatangan (seperti sifat rakus, tamak, dan pemarah) yang ada di dalam diri manusia. Menyembelih hewan hanyalah simbol atau wasilah untuk meraih makrifat, menghancurkan ego (fana'), dan mendekatkan diri secara total kepada Allah SWT. Berikut adalah inti pemaknaan qurban dalam perspektif tasawuf sebagai berikut:
· Menyembelih"Ego dan Nafsu”: Ibadah ini adalah latihan spiritual untuk mengorbankan kecenderungan destruktif ego manusia. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa jiwa manusia kerap kali dikuasai oleh sifat-sifat hewani yang harus dikendalikan.
· Makna Qurban (Mendekat): Qurban berasal dari akar kata qara-ba yang bermakna dekat. Dalam tasawuf, ini berarti seorang hamba harus rela mengorbankan kepentingan duniawi dan cinta selain kepada Allah agar bisa sedekat mungkin dengan-Nya.
· Penyucian Hati (Tazkiyatun Nafs): Sesuai dengan esensi ibadah, darah dan daging hewan tidak akan pernah sampai kepada Allah SWT, melainkan ketakwaan pelakunya. Qurban adalah manifestasi dari penyerahan diri dan keikhlasan seutuhnya. Allah berfirman :
لَن يَنَالَ اللَّـهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَـٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ
“Tidak akan sampai kepada Allah daging dan darah qurban. Akan tetapi yang sampai kepada Allah adalah ketakwaan diantara kalian” (QS. Al-Hajj:23: 37)
Ketakwaan, keikhlasan, ketundukan, kesabaran dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Sesungguhnya dalam kejadian ini terdapat pelajaran buat orang yang mau berpikir.
· Refleksi Pengorbanan Nabi Ibrahim: Praktik ini adalah napak tilas ketulusan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang telah membuktikan bahwa tidak ada yang lebih berharga dibandingkan kecintaan kepada Sang Pencipta Allah SWT.