radarbengkuluonline.id, Jakarta – Pelemahan daya beli masyarakat mulai memberikan tekanan terhadap sektor perbankan, termasuk Bank Perekonomian Rakyat (BPR).
Seperti dikutip dari laman disway.id, salah satu dampaknya terlihat dari pengembalian kredit yang mulai melambat, seiring perubahan pola pembayaran sejumlah debitur. Direktur Utama Bank Sembada, Sandibrata Simanjuntak, mengakui tantangan pengembalian kredit semakin terasa pada 2026. Sejumlah debitur yang sebelumnya memiliki catatan pembayaran lancar mulai menunjukkan pola keterlambatan.
BACA JUGA:Pelatihan Jurnalistik, DPW LDII & Pemprov Sepakat Perangi Berita Fitnah & Hoax
“Kalau melihat tren saat ini, untuk kredit kami harus mengakui bahwa tantangan untuk repayment semakin tinggi. Banyak debitur yang sebelumnya smooth mulai menunjukkan pola-pola (keterlambatan),” ujar Sandibrata dalam acara Grand Prize STAR di Jakarta, Jumat, 4 September 2026.
Walaupun demikian, kondisi tersebut belum membuat tingkat kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) Bank Sembada menembus level tinggi. Sandibrata menyebut NPL net Bank Sembada saat ini masih berada di kisaran 1,6 persen atau di bawah 2 persen.
“Kalau di kami masih lebih kepada telat bayar. Untuk non-performing loan atau return ratio, NPL kami masih di bawah 2 persen, kurang lebih net 1,6 persen,” katanya.
Kata Sandibrata, persoalan yang dihadapi debitur saat ini tidak selalu berupa ketidakmauan membayar. Dalam sejumlah kasus, debitur masih memiliki kemauan untuk memenuhi kewajibannya, tetapi kemampuan finansialnya sedang mengalami tekanan. Karena itu, Bank Sembada memilih melakukan pendekatan lebih awal sebelum keterlambatan pembayaran berkembang menjadi kredit bermasalah.
“Prinsip saya, sebelum menjadi seperti kebakaran, ketika kita melihat ada asap, kita sudah mulai merespons,” ujarnya.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah memberikan relaksasi melalui restrukturisasi kredit. Skemanya dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing debitur, mulai dari memperpanjang tenor hingga menjadwalkan ulang pembayaran. “Kita bisa melakukan restrukturisasi kredit, memperpanjang tenor, atau kita reschedule. Bahkan ada beberapa yang sampai kita kurangi bunganya,” kata Sandibrata.
Lebih lanjut dia menegaskan, pendekatan tersebut dilakukan dengan melihat kemampuan masing-masing debitur. Bank tidak ingin hanya mengejar pembayaran tanpa mempertimbangkan kondisi usaha dan keuangan nasabah.
“Banyak dari kita mungkin tidak memiliki kemampuan dari sisi kewajiban kredit, sementara kita menghargai kemauannya. Selama ada kemauan, ada kebaikan, kita bantu,” tuturnya.
Kemudian, Sandibrata mengatakan, respons terhadap perubahan kondisi debitur harus dilakukan sebelum persoalan membesar. Menurut dia, bank perlu mendatangi nasabah untuk mencari solusi, bukan sekadar bersikap reaktif ketika kredit sudah bermasalah.
“Kita harus datang kepada customer, bukan untuk menang, tetapi untuk mencari apa yang menjadi solusi,” ujarnya.
Kinerja BPR Masih Tumbuh
Di tengah tantangan tersebut, Bank Sembada masih mencatat pertumbuhan pada sejumlah indikator bisnis.
Sandibrata menyebut dana pihak ketiga (DPK) Bank Sembada tumbuh lebih dari 40 persen. Sementara penyaluran kredit yang pada semester pertama 2026 berada di kisaran Rp130 miliar, kini telah mendekati Rp160 miliar.
Hingga akhir tahun, Bank Sembada menargetkan penyaluran kredit dapat mencapai sekitar Rp200 miliar. Secara keseluruhan, pertumbuhan bisnis tahun ini ditargetkan berada di kisaran 30–40 persen.
“DPK lebih dari 40 persen. Kredit kami pada semester pertama sekitar Rp130 miliar, sekarang sudah hampir Rp160 miliar. Sampai akhir tahun kami ingin mencapai hampir Rp200 miliar,” jelasnya.
Tabungan STAR Himpun Hampir Rp15 Miliar
Pernyataan tersebut disampaikan Sandibrata dalam rangkaian acara Grand Prize STAR atau Sembada Tabungan Rejeki yang digelar Bank Sembada di Ballroom Hotel Merlynn Park, Jakarta, Jumat, 4 September 2026.
Program Tabungan STAR telah diluncurkan sejak Februari 2025 dan berjalan dalam dua batch.
Program tersebut dirancang sebagai produk simpanan sekaligus wadah komunitas nasabah melalui berbagai kegiatan edukasi dan pertemuan rutin.
Dalam sekitar satu tahun pelaksanaannya, program Tabungan STAR disebut telah menghimpun dana tabungan hampir Rp15 miliar.
Nasabah dapat mengikuti program dengan menempatkan saldo minimal Rp100 juta untuk memperoleh satu kupon hadiah. Semakin besar dana yang ditempatkan sesuai ketentuan program, semakin besar pula kesempatan memperoleh kupon.
Pada malam puncak Grand Prize STAR, Bank Sembada menyiapkan 34 hadiah dengan nilai total hampir Rp800 juta. Hadiah tersebut terdiri dari satu unit mobil Wuling Binguo EV, empat unit Honda Scoopy Prestige, lima unit smartphone Samsung Galaxy S25, serta logam mulia.
Acara tersebut dihadiri sekitar 300 tamu undangan yang terdiri dari perwakilan regulator, pemerintah, insan perbankan, institusi terkait, serta nasabah Bank Sembada.
Bank Sembada sekaligus mengumumkan pelaksanaan Batch 3 Tabungan STAR. Pada batch terbaru ini, jumlah hadiah utama disebut akan ditingkatkan menjadi dua unit mobil.