Keracunan MBG Banyak Terjadi karena Lauk dan Sayur Rusak

Keracunan MBG Banyak Terjadi karena Lauk dan Sayur Rusak

Kepala Badan Gizi Nasional, Sudaryono mengungkapkan bahwa keracunan dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis banyak dipicu oleh kerusakan bahan makanan, terutama lauk yang didominasi protein hewani-Tim Redaksi/Ist-radarbengkulu

radarbengkuluonline.id, Jakarta  -- Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengungkapkan bahwa keracunan dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) banyak dipicu oleh kerusakan bahan makanan, terutama lauk yang didominasi protein hewani.



Seperti dikutip dari laman disway.id, Sudaryono mengatakan bahan protein hewani seperti ayam, telur, ikan, dan daging menjadi salah satu perhatian utama dalam pengawasan MBG.

BACA JUGA:UMKM Kopi Bengkulu Kian Berdaya, Semakin Mendunia



Katanya lagi, kualitas bahan baku menjadi faktor penting untuk memastikan makanan yang disajikan kepada penerima manfaat tetap aman dikonsumsi.



"Sampai dengan sejauh ini saya kan 50 hari jadi kepala BGN, kasus adanya gangguan kesehatan karena MBG banyak sekali terjadi karena faktor rusaknya makanan itu lauk dan sayur. Lebih banyak lauk, lebih banyak didominasi oleh protein hewani. Apakah ayam, telur, ikan, daging dan sebagainya, dengan olahan lainnya," kata Sudaryono, Jumat, 18 September 2026.



Lebih lanjut Sudaryono menegaskan, pengawasan tidak cukup hanya dilakukan pada proses memasak. Menurutnya, makanan yang dimasak dengan prosedur yang benar tetap berisiko menimbulkan gangguan kesehatan apabila bahan baku yang digunakan sudah dalam kondisi rusak.



"Sehingga penting ya kami sudah sampaikan di dalam bahwa salah satunya adalah bahan bakunya mesti benar. Mau masaknya benar kalau bahan bakunya sudah busuk ya enggak, tetap aja," ujarnya.



Untuk itu, BGN mulai memperketat proses penerimaan bahan baku di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Salah satu langkah yang dilakukan adalah menerapkan pencatatan atau absensi saat bahan makanan diterima.



Di samping itu, BGN tengah menyiapkan sistem semacam marketplace untuk pengadaan bahan baku, khususnya protein hewani yang membutuhkan penanganan khusus. Menurut Sudaryono, sistem tersebut diperlukan agar kualitas bahan yang dibeli sesuai dengan yang diterima oleh dapur MBG.



Sistem itu juga diharapkan dapat mencegah permainan harga dalam pengadaan bahan makanan. "Kami lagi bangun supaya bahan-bahan baku protein hewani khususnya ini yang special handling ini betul-betul kualitasnya benar, dibeli dengan harga yang benar, tidak ada mark-up. Jangan sampai beli katanya beli harga, beli kualitas A, tapi ternyata yang datang kualitasnya D," kata Sudaryono. 


Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: