Saat Netanyahu Naik Mimbar, Delegasi Indonesia dan Negara Lain Walk Out di Sidang Umum PBB
Saat Netanyahu Naik Mimbar, Delegasi Indonesia dan Negara Lain Walk Out di Sidang Umum PBB-Tim Redaksi/Ist-radarbengkulu
radarbengkuluonline.id, Jakarta - --- Delegasi Indonesia memilih langsung mengosongkan kursi diplomasi tepat saat Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melangkah ke mimbar Sidang ke-81 Majelis Umum PBB di New York.
Seperti dikutip dari laman disway.id, dalam video yang dibagikan oleh Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, para diplomat Indonesia yang sebelumnya duduk di aulia sidang tampak bergegas meninggalkan kursi mereka saat Netanyahu dipersilakan naik ke mimbar untuk menyampaikan pernyataan nasional.
BACA JUGA: Indonesia Raih Emas Perdana dari Bulutangkis di Asian Games 2026
Di samping Indonesia, tampak pula diplomat dari berbagai negara lain berduyun-duyun meninggalkan kursi mereka dan keluar ruangan sebagai bentuk protes kepada pemimpin rezim zionis Israel itu. Suasana tersebut membuat ruangan di dalam aula Majelis Umum PBB menjadi riuh saat para delegasi meninggalkan kursi mereka dan keluar ruangan.
Melihat suasana itu juga membuat pemimpin sidang mengetuk palu untuk meminta para delegasi menjaga ketertiban. Menanggapi situasi tersebut, Netanyahu justru melontarkan sindiran terbuka dari atas podium.
“Sebelum saya mulai, jika ada pengecut moral yang masih belum keluar dari aula ini, tolong lakukan sekarang,” kata Netanyahu meledek para peserta sidang, sebagaimana disiarkan UN Web TV, dikutip Jumat, 25 September 2026.
Sementara itu, Netanyahu dalam pidatonya mengecam berbagai pihak, baik musuh maupun sekutu. Sasaran kritiknya mencakup para pemimpin Iran, Wali Kota New York City, hingga negara mitra seperti Inggris, Perancis, dan Turkiye. Netanyahu memanfaatkan panggung global tersebut di tengah kampanye pemilihan umum Israel yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Oktober 2026.
Dalam sidang PBB itu, Menteri Luar Negeri Indonesia Sugiono mendorong upaya perdamaian di Gaza, Palestina, berjalan beriringan dengan pemulihan kehidupan masyarakat setempat. Perdamaian dinilai tidak cukup hanya ditandai dengan penghentian kekerasan, tetapi juga harus memberi ruang bagi masyarakat Gaza untuk membangun kembali kehidupan yang layak dan bermartabat.
Pesan tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono dalam pertemuan High Level Roundtable on Gaza Early Recovery: From Sharm El-Sheikh to Phase II–Consolidating Peace and Early Recovery di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB ke-81 di New York, Amerika Serikat, Rabu, 23 September 2026.
“Bagi rakyat Gaza, perdamaian harus berarti lebih dari sekadar tidak adanya kekerasan. Mereka harus dapat membangun kembali kehidupan yang layak dan bermartabat,” ujar Sugiono dalam keterangannya diterima di Jakarta, Jumat, 25 September 2026.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
