Berjuang Untuk Kemerdekaan Hakiki

Berjuang Untuk Kemerdekaan Hakiki

H. Syahrul Azwar, Lc, MH-Adam-radarbengkulu

Pada hari-hari ini, pekan ini, dan bulan ini kita sebagai bangsa Indonesia bersyukur atas proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Sudah 79 tahun kita merdeka secara militer dan politik dari kekuatan penjajah asing. 

Namun sayangnya secara ekonomi dan budaya kita belum merdeka. Bahkan dalam politik internal dalam negeri kita juga belum bisa dikatakan merdeka penuh.

 

Pasalnya, di sektor ekonomi, dominasi asing nampak meluas dan menguat menguasai berbagai sektor infrastruktur dan perburuhan disertai represi eksploitasi di perdagangan luar negeri. Selanjutnya politik dalam negeri juga belum menjamin kesetaraan bagi seluruh anak bangsa. Khususnya dalam berkompetisi dan berkontestasi.

 

Di luar itu, tekanan dan dominasi asing meluas ke sektor budaya. Bentuk invasi budaya yang mengeksploitasi kaum hawa sampai kepada agresi moral spiritual yang memberikan toleransi kepada "Islamophobia" dengan memberikan ruang masih adanya indikasi sikap sentiment oleh sebagian oknum dengan mengeluarkan kebijakan larangan berhijab bagi wanita muslimah dalam moment tertentu, padahal keberadaan hijab atau jilbab tersebut sama sekali tidak mengganggu siapapun. 

Sikap dan langkah diplomatik beberapa Ormas dan tokoh  sudah dilakukan.  Ormas-ormas wajib bersuara tegas di berbagai media yang tersedia. 

 

Adapun terhadap ketidakadilan politik internal dalam memberikan kesempatan kepada elemen bangsa untuk dapat dicalonkan dan dipilih sebagai anggota legislatif atau eksekutif disikapi oleh umat Islam dengan cara cerdas. Mereka menunjukkan eksistensi umat yang berkehendak dan bebas dalam rangka menempuh jalan guna mewujudkan citra proklamasi "keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia."

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Dalam perspektif Al-Qur'an, pelbagai bentuk eksploitasi oleh dan terhadap rakyat Indonesia berpangkal dari keserakahan nafsu manusia yang sedang berkuasa. Nafsu syaythani-lah yang menghalalkan eksploitasi terhadap aset anak bangsa yang lain. Entah harta benda, kehormatan,atau bahkan simbol spiritual.

Dalam hal ini umat harus berada dalam satu shaf atau satu sikap. Hal itu guna menghadapi kekuatan setan yang terus berusaha menyimpangkan manusia. Allah befirman yang artinya:

 

''Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagi kalian. Maka posisikan ia sebagai

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: radarbengkulu