Anggota DPRD Provinsi Bengkulu Minta Pemda Tak Lepas Tangan Soal Nasib Honorer R4
Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Bengkulu, Edwar Samsi-Windi-
radarbengkuluonline.id – Sorotan terhadap nasib para tenaga honorer kategori R4 yang belum masuk dalam database Badan Kepegawaian Negara (BKN) RI, terus mengemuka.
Di tengah perjuangan panjang mereka untuk mendapatkan kepastian status, muncul desakan agar pemerintah daerah (Pemda), khususnya di Provinsi Bengkulu, tidak hanya menjadi penonton.
BACA JUGA:Teuku Zulkarnain Minta Anak yang Terlibat Geng Motor Dibina di Barak Militer
Anggota Komisi I DPRD Provinsi Bengkulu Edwar Samsi, SIP, MM menilai bahwa sudah saatnya pemda ambil bagian aktif dalam memperjuangkan hak para honorer R4. Ia menyebut bahwa mereka bukan sekadar pekerja serabutan, melainkan pahlawan pendidikan, administrasi, hingga pelayanan dasar yang sudah bertahun-tahun mengabdi.
“Mereka ini sudah mengabdikan diri untuk daerah, bukan hanya menuntut hak. Maka, wajar jika daerah juga ikut memperjuangkan mereka,” tegas Edwar, Rabu (23/7).
BACA JUGA: 10 Ribu Pohon Kelapa akan Ditanam di Sepanjang Pantai Panjang Bengkulu
Pernyataan Edwar ini tidak lepas dari viralnya nama Guru Rerisa, seorang honorer R4 dari Bengkulu yang sempat tampil dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama Komisi X DPR RI. Dalam forum nasional itu, Rerisa menjadi suara mewakili ribuan guru honorer R4 se-Indonesia.
Namun, alih-alih mendapat apresiasi, Guru Rerisa justru dikabarkan dipanggil oleh Inspektorat Provinsi Bengkulu. Alasannya, pernyataannya dalam RDPU dianggap kontroversial dan berpotensi melanggar etika sebagai tenaga non-ASN.
BACA JUGA:Kejati Bengkulu Tahan Bos Batu Bara Provinsi Bengkulu, Totalnya 5 Tersangka
“Saya cukup terkejut ketika membaca bahwa beliau dipanggil dan bahkan disebut-sebut akan diberi sanksi. Padahal ia menyampaikan aspirasi atas nama ribuan orang,” ucap Edwar prihatin.
Menurutnya, kasus ini seharusnya dijadikan refleksi, bukan pemicu tekanan. Ia menyayangkan jika pemda justru mengambil langkah yang menambah tekanan psikologis terhadap para pejuang pendidikan seperti Rerisa.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
