Pelajaran Amat Penting yang Harus Diamalkan dari Kisah Israk dan Mikraj Nabi Muhammad SAW
Amir Abdullah, Lc., MA-Riski/MC-Radar Bengkulu
radarbengkuluonline.id -- Para pembaca rahimakumullah, tidak terasa hari ini kita sudah memasuki hari Jumat lagi. Untuk itu, redaksi sudah menyiapkan khutbah Jumat untuk pembaca semua. Judulnya, Pelajaran Amat Penting yang Harus Diamalkan dari Kisah Israk dan Mikraj Nabi Muhammad SAW.
Materi ini ditulis oleh Ustadz Amir Abdullah, Lc., MA. Rencananya, materi ini akan disampaikan saat menjadi khatib shalat Jumat di Masjid Jami" Babussalam, Jalan P.Natadirja KM.8 Kelurahan Jalan Gedang, Kecamatan Gading Cempaka, Kota Bengkulu.
Apa saja isi materi khutbahnya, silahkan dibaca langsung tulisannnya dibawah ini. Selamat membaca! Semoga ada manfaatnya bagi kita semua.
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ
أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَإِنَّ التَّقْوَى هِيَ مِفْتَاحُ النَّجَاةِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
Pelajaran Pertama: Kekuasaan Allah Tidak Terbatas oleh Akal Manusia
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى
Allah mengawali ayat ini dengan kata سُبْحَانَ (Mahasuci Allah).
Para ulama menjelaskan: ini untuk menolak anggapan mustahil.
Dalam satu malam:
· Nabi ﷺ menempuh perjalanan ribuan kilometer
· bertemu para nabi
· naik menembus tujuh lapis langit
· hingga Sidratul Muntaha
Semua itu bukan mimpi, tetapi kenyataan dengan jasad dan ruh.
قال الإمام ابن كثير رحمه الله
:
هَذِهِ الْآيَةُ تَدُلُّ عَلَى كَمَالِ قُدْرَةِ اللّٰهِ، فَإِنَّهُ سُبْحَانَهُ فَعَلَ مَا يَعْجِزُ الْعُقُولُ عَنْ إِدْرَاكِ كُنْهِهِ
Ayat ini menunjukkan kesempurnaan kekuasaan Allah. Dia melakukan sesuatu yang akal manusia tidak mampu menjangkau hakikatnya.
Hadirin sekalian, Jika hari ini kita merasa:
· Hidup sempit
· Masalah bertumpuk
· Jalan keluar terasa buntu
ingatlah: Allah Swt yang membawa Nabi-Nya ke langit, artinya jika kita serahkan urusan kepada Allah niscayalah Allah Swt mampu mengubah hidup kita dalam sekejap walaupun hal tersebut kadang kala di luar jangkauan manusia.
Pelajaran Kedua: Shalat adalah Amanah Paling Agung
Hadirin yang dimuliakan oleh Allah SWT
Kisah Mi‘rāj
Di langit, Rasulullah ﷺ menerima perintah shalat 50 waktu, lalu diringankan menjadi 5 waktu.
Namun pahalanya tetap 50.
Ini menunjukkan kasih sayang Allah kepada umat Nabi Muhammad ﷺ.
فُرِضَتِ الصَّلَوَاتُ خَمْسِينَ صَلَاةً، ثُمَّ جُعِلَتْ خَمْسًا
(رواه البخاري ومسلم)
Artinya : Salat-salat itu pada awalnya diwajibkan sebanyak lima puluh salat, kemudian dijadikan (diringankan) menjadi lima salat.”
قال الإمام النووي رحمه الله
:
إِنَّ فَرْضَ الصَّلَاةِ فِي السَّمَاءِ دَلِيْلٌ عَلَى شَرَفِهَا، وَأَنَّهَا أَعْظَمُ أَرْكَانِ الْإِسْلَامِ بَعْدَ الشَّهَادَتَيْنِ
Diwajib kannya shalat di langit adalah bukti kemuliaannya, dan bahwa shalat adalah rukun Islam terbesar setelah dua kalimat syahadat.
Pesannya untuk kita semua kaum muslimin agar senantiasa mendawamkan shalat 5 waktu sehari semalam. Karena shalat 5 waktu merupakan bentuk syukur kita kepada Allah Swt, dan jika jika meninggalkannya, maka kite termasuk golongan orang yang kufur terhadap nikmat yang diberikan Allah Swt. Dan jika kita kufur terhadap nikmat, maka azab Allah Swt amatlah pedih.
Pelajaran Ketiga: Harus benar benar mengimani peristiwa Isra dan Mikraj dengan keimanan yang sempurna
Ketika kaum Quraisy berkata:
“Bagaimana mungkin Muhammad pergi ke Syam dan kembali dalam satu malam?”
Shabat Abu Bakar menjawab dengan iman, bukan logika: dan beliau berkata dengan lantang :
إِنْ كَانَ قَالَ فَقَدْ صَدَقَ
“Jika benar ia telah mengatakannya, maka sungguh ia telah berkata benar.”
Makna kalimat ini adalah ungkapan pembenaran penuh tanpa ragu, yang keluar langsung dari lisannya shabat Abu bakar Assiddiq ketika membenarkan Rasulullah ﷺ dalam peristiwa Isrāk dan Mikrāj.
قال الحافظ ابن حجر رحمه الله
:
سُمِّيَ أَبُو بَكْرٍ بِالصِّدِّيْقِ لِكَمَالِ تَصْدِيْقِهِ لِلنَّبِيِّ ﷺ فِي هَذِهِ الْقِصَّةِ
Abu Bakar disebut Ash-Shiddiq karena kesempurnaan pembenarannya terhadap Nabi Muhammad SAW dalam peristiwa ini. Fatḥul Bārī, Ibn Ḥajar.
Kaum muslimin yang dirahmati
Orang beriman tidak berkata: “Masuk akal atau tidak?”
Tetapi berkata: “Ini dari Allah dan Rasul-Nya.”
Beriman kepada yang ghoib alias tidak nampak merupakan kewajiban seorang muslim,Dan jika kita benar -benar mengimani peristiwa Israk Mikrajnya Nabi Muhammad Saw In shaa Allah kita akan digolongkan orang yang muttaqin. Sebagaimana pada surat Al-Baqoroh ayat Allah menjelaskan diantara sifat sifat orang yang bertaqwa adalah harus beriman kepada yang ghoib
Pelajaran Keempat: Masjidil Aqsha dan Persatuan Para Nabi
Kisah Agung Rasulullah ﷺ menjadi imam seluruh nabi di Masjidil Aqsha.
Ini bukan kebetulan. Ini pesan besar: Islam adalah kelanjutan dan penyempurna risalah para nabi.
قال الإمام القرطبي رحمه الله
فِي جَمْعِ الْأَنْبِيَاءِ خَلْفَ مُحَمَّدٍ ﷺ دَلِيْلٌ عَلَى تَفَضُّلِهِ وَشَرَفِ أُمَّتِهِ
Dikumpulkannya para nabi di belakang BagindaNabi Muhammad SAW,adalah bukti keutamaan beliau dan kemuliaan umatnya.Tafsīr Al-Qurṭubī
Jama’ah sekalian, kita diwajibkan untuk menjaga nama baik Islam. Jangan sampai kita menodai agama Islam ini. Kita tampakkkan hal- hal yang baik saja tentang Islam. Jangan kita nodaai nama baik Islam dengan akhlaq -akhlaq yang tercela. Kenapa demikian ????? Karena di antara bentuk atau cara kita menjaga warisan para Nabi adalah dengan senantiasa berlaku sopan santun serta berakhlaq yang terpuji.dan orang senantiasa berakhlaq mulia, maka dia akan mendapatkan pahala yang besar disisi Allah Swt. Sebagaimana Nabi bersabda :
مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي الْمِيْزَانِ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ
“Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan (amal) daripada akhlak yang mulia.” H.R Imam At-Tirmidzi dan Imam Abu Dāwud
Pelajaran Kelima: Setelah Kesedihan Allah Beri Kemuliaan
Isrāk Mikrāj terjadi setelah Tahun Kesedihan:
Rasulullah ﷺ kehilangan istri tercinta Khadijah dan pamannya Abu Thalib.
Ketika bumi menolak beliau, justru Allah Swt mengagungkan Beliau dengan memberi tugas yang begitu mulia, yaitu peristiwa Israk dan Mikraj.
Hadirin Jamaah Rohimakumulloh setiap kesulitan didunia ini yaqinlah bahwa Allah Swt selalu akan meberikan solusi kemudahan kepada Hambanya yang senantiasa sabar dalam menghadapi segala musibah dimuka bumi ini. Kesabaran hari ini adalah tangga kemuliaan esok hari.
Sebagaimana Allah Swt berfirman :
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Artinya :
Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan,sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.(Al-Insyiroh 5-6)
قال الإمام ابن رجب رحمه الل
ه:
إِذَا بَلَغَتِ الْمِحْنَةُ غَايَتَهَا، فَإِنَّ الْفَرَجَ قَرِيْبٌ
Imam Ibnu Rojab menjelaskan dalam kitab Jāmi‘ul ‘Ulūm wal Ḥikam : Jika ujian telah mencapai puncaknya, maka pertolongan Allah sudah sangat dekat.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
