Sawah Siap Panen Terancam Terendam, Petani Tebeng Was-Was Hadapi Musim Hujan
Sawah Siap Panen Terancam Terendam, Petani Tebeng Was-Was Hadapi Musim Hujan-Irfan Herdian-radarbengkulu
radarbengkuluonline.id – Guratan cemas tak bisa disembunyikan dari wajah para petani di Kelurahan Kebun Tebeng, Kota Bengkulu pada Jumat, 23 Januari 2026.
Di saat hamparan padi mulai menguning dan memasuki masa panen, cuaca ekstrem berupa hujan lebat yang mengguyur wilayah tersebut dalam sepekan terakhir menjadi mimpi buruk yang nyata.
Kawasan persawahan di kelurahan ini memang sudah lama dikenal sebagai titik rawan banjir. Letak geografis yang rendah membuat air mudah menggenang setiap kali intensitas hujan meningkat, mengancam kerja keras petani selama berbulan-bulan.
Bagi warga setempat, panen kali ini bukan sekadar rutinitas, melainkan tumpuan ekonomi keluarga. Namun, hujan yang datang lebih awal dari perkiraan membuat mereka berada dalam posisi dilematis.
Batang Padi Roboh
Hujan deras disertai angin kencang menyebabkan batang padi yang sudah berat berisi mulai rebah ke tanah.
Risiko Pembusukan
Jika sawah terendam banjir dalam waktu lebih dari 24 jam, bulir padi terancam membusuk atau tumbuh tunas kembali, yang secara otomatis menurunkan nilai jual.
Biaya Tambahan
Sebagian petani terpaksa melakukan "panen dini" atau menambah tenaga kerja untuk mempercepat proses sebelum air naik, yang berarti menambah beban pengeluaran.
"Tinggal hitungan hari sebenarnya, tapi kalau hujan terus seperti ini, kami tidak tidur nyenyak," ujar Mansyur Cahyadi (54), salah seorang pemilik lahan di Tebeng.
"Kalau banjir datang, air dari drainase meluap ke sawah. Padi bisa tenggelam, dan kami rugi total (fuso)," ujarnya.
Keresahan senada juga dirasakan petani lainnya. Mereka berharap sistem drainase di sekitar kawasan pemukiman dan persawahan segera mendapat perhatian serius dari pemerintah kota untuk meminimalisir luapan air.
Warga berharap adanya bantuan atau solusi jangka panjang. Seperti normalisasi parit besar yang melintasi kawasan tersebut. Hingga berita ini diturunkan, awan mendung masih kerap menggelayuti langit Kota Bengkulu di sore hari, memaksa para petani untuk terus memantau debit air dengan perasaan harap-harap cemas.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
