Emas Jadi Tameng Ketidakpastian 2026, Bukan Sekadar Aset Cari Untung

Emas Jadi Tameng Ketidakpastian 2026, Bukan Sekadar Aset Cari Untung

Emas Jadi Tameng Ketidakpastian 2026, Bukan Sekadar Aset Cari Untung-Poto ilustrasi-

 

RADAR BENGKULU -  Lonjakan harga emas yang nyaris 100 persen dalam setahun terakhir hingga Januari 2026 bukan semata euforia sesaat. Di balik kenaikan tajam tersebut, emas kembali menegaskan perannya sebagai aset pelindung nilai (safe haven) di tengah dunia yang makin tak pasti.

Tahun 2026 dibuka dengan kombinasi risiko global yang kompleks: perlambatan ekonomi Amerika Serikat, konflik geopolitik yang belum mereda di Eropa dan Timur Tengah, serta tekanan nilai tukar di negara berkembang, termasuk Indonesia. Dalam situasi ini, emas tidak lagi sekadar instrumen spekulatif, melainkan alat bertahan menghadapi gejolak.

BACA JUGA:Ramalan Emas 2026: Menuju Supercycle dan Dominasi Safe Haven

Sejumlah analis menilai, perubahan arah kebijakan moneter global menjadi faktor kunci. Ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed mendorong pelemahan dolar AS, kondisi yang secara historis memperkuat daya tarik emas. Di saat yang sama, bank sentral dunia terus menambah cadangan emas sebagai langkah defensif menghadapi ketidakpastian sistem keuangan global.

Dari dalam negeri, nilai tukar rupiah yang masih tertahan di kisaran Rp16.800 per dolar AS membuat harga emas domestik bergerak lebih agresif dibanding pasar global. Hal ini menjadikan emas sebagai salah satu instrumen lindung nilai paling efektif bagi investor Indonesia.

Namun demikian, para pelaku pasar mengingatkan agar investor tidak terjebak euforia. Secara teknikal, harga emas saat ini sudah berada di area jenuh beli, sehingga potensi koreksi jangka pendek tetap terbuka.

Bagi investor jangka pendek, disiplin mengambil keuntungan dinilai lebih bijak. Sementara untuk jangka panjang, emas masih dipandang relevan sebagai bagian dari diversifikasi portofolio, terutama dengan proyeksi harga global yang berpeluang menuju USD 6.000 per troy ounce hingga akhir 2026.

Dengan kata lain, di tahun yang sarat risiko ini, emas bukan lagi soal “mengejar cuan”, melainkan strategi bertahan menghadapi ketidakpastian ekonomi global.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: