Pekerja Tambang Batu Bara PT CDE Bengkulu Utara Menanti Persetujuan RKAB 2026

Pekerja Tambang Batu Bara  PT CDE Bengkulu Utara Menanti Persetujuan RKAB 2026

Alat berat PT CDE Bengkulu Utara sedang dipanaskan agar tidak rusak -Irfan Herdian-radarbengkulu

radarbengkuluonline.id, Argamakmur  – Teguh Kusuma Yuda (24) salah seorang teknisi tambang  PT Cakrawala Dinamika Energi (CDE) yang berlokasi di Kabupaten Bengkulu Utara kini sedang menunggu izin tambang tempat ia bekerja  turun dari pemerintah. Karena, saat ini kondisinya berada dalam  ketidakpastian. 

Menurutnya, hingga awal Februari 2026 ini, perusahaan pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) batu bara ini belum bisa beroperasi secara penuh lantaran masih menunggu pengesahan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun 2026 dari pemerintah pusat.

BACA JUGA:Gubernur Bengkulu Salurkan Bantuan Listrik Gratis kepada 2.024 Rumah Tangga Miskin



Keterlambatan ini, paparnya, sejalan dengan kebijakan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang tengah melakukan evaluasi ketat dan penyesuaian target produksi nasional.

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, sebelumnya mengisyaratkan adanya pemangkasan kuota produksi batu bara nasional guna menjaga stabilitas harga di pasar global, sebuah kebijakan yang berdampak langsung pada perusahaan tambang di daerah, termasuk PT CDE.

BACA JUGA:Setelah Sampai di Banten, Kontingen PWI Bengkulu Langsung Tancap Gas Ikuti Konkernas



Kondisi ini, paparnya, memicu kekhawatiran akan adanya potensi pengurangan tenaga kerja atau penghentian sementara kegiatan lapangan (standby) jika izin produksi tidak segera turun.

Meski pemerintah telah mengeluarkan Surat Edaran mengenai relaksasi operasional terbatas hingga Maret, kepastian jangka panjang tetap menjadi tumpuan utama bagi kelangsungan bisnis dan kesejahteraan karyawan.



Dampak dari ketidakpastian ini paling dirasakan oleh para pekerja teknis di lapangan. Di area workshop PT CDE, aktivitas tidak sibuk . Deretan alat berat tampak terparkir rapi, hanya sesekali disentuh untuk perawatan rutin.

Menurut  Teguh Kusuma Yuda,  kondisi pekerjaan di workshop selama menunggu RKAB ini tidak banyak. Ia dan rekannya yang lain tetap masuk, tapi ya tugasnya cuma memanaskan mesin atau cek-cek ringan supaya alat tidak rusak karena kelamaan parkir.



''Kami orang kecil, tidak terlalu paham soal aturan kuota atau harga dunia. Yang kami tahu, kalau alat berat jalan, kami kerja, asap dapur ngepul,'' ujarnya.

Ia berharap kepada Presiden, agar izinnya segera dikeluarkan supaya ia dan kawan-kawannya  bisa kerja. ''Kami siap bekerja  kalau izinnya sudah ada," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait