Cahaya di Berendo: Geliat UMKM Bengkulu di Balik Dingin Malam Ramadan

Cahaya di Berendo: Geliat UMKM Bengkulu di Balik Dingin Malam Ramadan

Cahaya di Berendo: Geliat UMKM Bengkulu di Balik Dingin Malam Ramadan-Irfan Herdian-radarbengkulu

radarbengkuluonline.id  – Jarum jam menunjukkan pukul 20.30 WIB, namun pelataran Berendo Kota Bengkulu di kawasan Masjid At-Taqwa justru kian benderang.

Di tengah udara malam yang mulai menusuk, kepulan asap dari pemanggang daging kebab dan denting sendok es campur menjadi simfoni yang menandakan ekonomi lokal masih berdenyut kencang meski sebagian besar warga telah terlelap.

BACA JUGA:Temukan Alat Kontrasepsi, Satpol PP Kota Bengkulu Razia Rumah Kos di Gading Cempaka


Bagi para pelaku UMKM di ikon wisata religi ini, bulan Ramadan bukan sekadar waktu untuk beribadah, melainkan panggung utama menjemput rezeki.


Di sudut koridor Berendo Bengkulu Doni (32) tampak cekatan mengiris daging sapi yang berputar di mesin pemanggang. Aroma rempah khas Timur Tengah menyeruak, mengundang pengunjung yang baru saja selesai melaksanakan tadarus atau sekadar mencari kudapan malam.


"Kalau malam biasa, jam 10 kami sudah tutup. Tapi di bulan puasa, justru jam segini pelanggan lagi ramai-ramainya. Anak muda banyak yang nongkrong setelah tarawih sampai menjelang sahur," ujar Doni sembari membungkus tortilla hangat.


Tak jauh dari lapak kebab, Sari (40), seorang penjual es campur, justru tetap sibuk meski malam kian larut. Meski identik dengan menu berbuka, es campur racikannya tetap dicari sebagai pencuci mulut yang menyegarkan di sela-sela obrolan santai warga.


"Uniknya di Bengkulu, mau dingin atau panas cuacanya, es campur tetap jadi teman nongkrong. Apalagi di bulan puasa ini, omzet harian bisa naik dua kali lipat dibanding hari biasa," kata Sari dengan senyum sumringah.


Fenomena ramainya Berendo hingga dini hari ini menunjukkan transformasi UMKM Bengkulu yang kian adaptif. Area yang dulunya hanya sekadar tempat transit, kini berubah menjadi pusat kuliner malam yang menyokong pendapatan warga lokal.Bukan sekadar transaksi jual-beli, Berendo di tengah malam Ramadan telah menjadi ruang silaturahmi.

Di atas kursi-kursi plastik, tampak mahasiswa, keluarga, hingga pekerja kantoran duduk bersama menikmati kebab hangat dan es campur sembari berdiskusi ringan.


Malam di Berendo adalah potret nyata bagaimana tradisi Ramadan bersinergi dengan ketangguhan ekonomi kreatif. Di bawah lampu-lampu taman yang kuning keemasan, para pedagang ini terus menjaga nyala harapan, satu porsi kebab dan satu gelas es campur di satu waktu.



Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: