Khutbah Idul Fitri: Dari Ramadan menuju Ketakwaan dan Kepedulian Sosial
Ahmad Sidik, S.Mn-Azmaliar Zaros-radarbengkulu
radarbengkuluonline.id -- Para pembaca rahimakumullah, tidak terasa hari ini kita sudah memasuki hai Raya Idul Fitri lagi. Untuk itu, redaksi sudah menyiapkan khutbah Idul Fitri untuk pembaca semua. Judulnya, Dari Ramadan menuju Ketakwaan dan Kepedulian Sosial.
Materi ini ditulis oleh Ustadz Ahmad Sidik, S.Mn. Rencananya, materi ini akan disampaikan saat menjadi khatib shalat Idul Fitri di Masjid Iklasul Amal, Jalan Setia Negara RT 15 RW 5 Kelurahan Kandang Mas, Kecamatan Kampung Melayu, Kota Bengkulu.
Apa saja isi materi khutbahnya, silahkan dibaca langsung tulisannnya dibawah ini. Selamat membaca! Semoga ada manfaatnya bagi kita semua.
اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْدُ اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا لاَإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَاإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلاَّ إِيّاَهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ الكاَفِرُوْنَ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ حَرَّمَ الصِّياَمَ أَيّاَمَ الأَعْياَدِ ضِيَافَةً لِعِباَدِهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلٰهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ الَّذِيْ جَعَلَ الجَنَّةَ لِلْمُتَّقِيْنَ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِيْ إِلىَ الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ.
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَباَرِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّـدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحاَبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنَ أَمَّا بَعْدُ، فَيَآ أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. وَاتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقاَتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قال الله تعالى : وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
Jamaah shalat Idul Fitri rahimakumullah
Menjadi sebuah keniscayaan bagi kita untuk senantiasa bersyukur kepada Allah Swt yang telah menganugerahkan nikmat yang tak terkira, di antaranya nikmat umur panjang, kesehatan, dan kesempatan pada kita, sehingga kita bisa menjalankan ibadah di bulan Ramadhan dan berjumpa dengan Hari Raya Idul Fitri 1447 H yang mulia.
Mari kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah swt dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Dengan komitmen ini semua, insyaAllah akan selalu ada pertolongan dan jalan keluar dari berbagai permasalahan yang kita hadapi di dunia.
Jamaah shalat Idul Fitri rahimakumullah
Idul Fitri yang saat ini sedang kita rayakan bukanlah sekadar perayaan belaka. Idul Fitri adalah momentum renungan bagi kita dan menjadi penanda apakah Ramadan benar-benar berhasil mendidik spiritualitas kita atau berlalu begitu saja tanpa ada bekasnya.
Selama satu bulan penuh kita dilatih untuk menahan lapar dan dahaga. Kita belajar menahan amarah, menahan ego, dan menahan hawa nafsu yang membara. Namun sejatinya, keberhasilan puasa tidak hanya terlihat dari seberapa kuat kita menahan lapar dan dahaga.
Namun dari seberapa besar perubahan sikap kita setelah Ramadan berlalu meninggalkan kita. Tanda keberhasilan Idul Fitri adalah ketika kita semakin mampu menahan diri, semakin memiliki empati, terutama kepada mereka yang hidup dalam kesulitan dalam kehidupan sehari-hari. Ramadan seharusnya melahirkan pribadi yang lebih peduli, memiliki kelembutan hati, dan lebih memperlakukan orang lain secara manusiawi.
اللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ. لاَإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ وَ لِلّٰهِ اْلحَمْدُ
Hadirin yang dimuliakan Allah
Dalam kehidupan ini, setiap orang memiliki jalan kebaikan sendiri. Kebaikan tidak selalu diukur dari harta atau kedudukan yang dimiliki. Kita yang hidup dalam kemiskinan dan kekurangan materi, tetap bisa berbuat kebaikan dengan cara bersabar diri, menerima takdir dengan lapang hati, dan tetap berusaha memperbaiki kehidupan ini. Perlu kita sadari bahwa kesabaran adalah wujud kemuliaan yang sejati.
Sementara kita yang diberi harta dan kekayaan serta kelebihan materi, memiliki kesempatan berbuat kebaikan dengan berbagi. Ingatlah, harta yang kita miliki bukan sekadar milik pribadi, tetapi juga amanah yang di dalamnya terdapat hak orang lain yang harus dibagi.
Kemudian kita yang diberi amanah jabatan serta kekuasaan, memiliki tanggung jawab besar untuk menggunakan jabatan tersebut bagi kebaikan dan kemaslahatan. Jabatan bukanlah posisi yang harus kita bangga-banggakan. Jabatan adalah titipan yang kelak akan hilang dan dimintai pertanggungjawaban.
Rasulullah saw bersabda:
أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Artinya: "Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang dipimpin.” (HR Al-Bukhari).
Karena itu, setiap keadaan hidup, sesungguhnya adalah peluang untuk berbuat kebaikan. Semua dari kita senantiasa memiliki peran untuk mewujudkan kemaslahatan dan memberi manfaat dalam kehidupan. Kita tak boleh berkecil hati dengan keadaan dan tak boleh pula jumawa dan bangga dengan jabatan yang dianugerahkan. Semua itu harus dipergunakan sebagai wasilah menuju kebaikan.
Inilah beberapa beberapa wujud keberhasilan yang harus kita tampakkan setelah kita menjalani puasa di bulan Ramadan. Semua itu adalah buah dari ketakwaan yang menjadi tujuan utama disyariatkan ibadah puasa yang kita lakukan. Jika kita mampu menjadi individu yang memiliki kepedulian serta mudah memaafkan, maka karakter takwa sudah tumbuh dalam diri sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an.
اللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ. لاَإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ وَ لِلّٰهِ اْلحَمْدُ
Hadirin yang dimuliakan Allah
Al-Qur’an telah menyebutkan tentang karakter orang-orang yang bertakwa. Allah SWT berfirman dalam Surat Ali ‘Imran ayat 133:
وَسَارِعُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ أُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِينَ
Artinya: “Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan menuju surga yang luasnya seperti langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.”
Kemudian Allah menjelaskan siapa orang-orang yang bertakwa itu pada ayat berikutnya:
ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلۡكَٰظِمِينَ ٱلۡغَيۡظَ وَٱلۡعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ
Artinya: “Yaitu orang-orang yang berinfak baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang menahan amarahnya, dan orang-orang yang memaafkan kesalahan orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”
Ayat ini menjelaskan bahwa ketakwaan bukan hanya tentang ibadah individual, tetapi juga tentang kepedulian sosial. Orang yang bertakwa adalah mereka yang tetap berbagi dalam keadaan lapang maupun sempit. Mereka yang mampu menahan amarah dan mudah memaafkan orang lain. Inilah yang disebut dengan kesalehan sosial.
Hadirin yang dimuliakan Allah
Hidup memang pilihan. Dalam Al-Qur’an disebutkan tentang dua jalan kehidupan yakni Jalan kebaikan dan jalan kesempitan. Allah berfirman dalam surat Al-Lail ayat 3-5:
فَأَمَّا مَنۡ أَعۡطَىٰ وَٱتَّقَىٰ وَصَدَّقَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡيُسۡرَىٰ
Artinya: “Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah, bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik, maka Kami akan mudahkan baginya jalan menuju kemudahan.” Sebaliknya, Allah juga berfirman dalam ayat selanjutnya pada surat yang sama:
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
