Mochamad Irfan Yusuf: Persiapan Ibadah Haji 2026 Sudah Hampir 100 Persen
Mochamad Irfan Yusuf: Persiapan Ibadah Haji 2026 Sudah Hampir 100 Persen-Tim Redaksi/Ist-radarbengkulu
radarbengkuluonline.id, Surabaya - Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) memastikan pelaksanaan haji 2026 bagi jamaah asal Indonesia masih sesuai jadwal, Selasa, 24 Maret 2026.
Seperti dikutip dari laman harian disway, kesiapan itu disampaikan oleh Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf. ”Persiapan haji alhamdulilah hampir 100 persen,” katanya dalam acara pemberangkatan arus balik di Masjid Al Akbar Surabaya, Selasa pagi.
BACA JUGA:Pemilik Kendaraan Nopol Luar Daerah Dapat Diskon Pajak 50 Persen di Bengkulu
Lebih lanjut dikatakan, seluruh persiapan seperti hotel, katering, dan transportasi bagi jamaah sudah rampung diurus pemerintah. Dukungan pendanaan selama perjalanan kita tak mengalami kendala.
Gus Irfan, sapaan akrabnya, mengatakan, hingga pukul 09.00 ini, tidak ada perubahan mengenai pemberangkatan jamaah haji tanah air. Pemberangkatan jamaah akan di mulai pada 22 April mendatang.
Saat disinggung khusus soal penerbangan ke Arab Saudi, Irfan mengatakan juga tak ada kendala berarti. Hingga hari ini, direct flight atau penerbangan langsung masih tetap dibuka oleh pemerintah Saudara. ”Sehingga In shaa Allah tak ada gangguan berarti,” paparnya.
Sedangkan terkait isu penghentian penerbangan oleh Arab Saudi, saat ini masih tersedia penerbangan langsung (direct flight) ke Arab Saudi, sehingga in shaa Allah tidak ada gangguan berarti.
Walaupun mengaku belum menemui sejumlah ganjalan, Irfan menjabarkan langkah mitigasi dan antisipasi tetap disiapkan pemerintah. Termasuk skema tiga langkah pelaksanaan haji yang sempat disampaikan Kemenhaj di rapat dengan DPR RI Komisi VIII. ”Tapi kami berharap, tidak ada perubahan dalam pelaksanannya,” celetuknya.
Pada Rabu 11 Maret lalu, Irfan sempat menyampaikan tiga skenario pemberangkatan haji di tengah situasi konflik Timur Tengah.
Pertama, lewat skema rute penerbangan. Dengan menghindari rute penerbangan dengan menjauhi zona konflik. Seperti Irak, Suriah, Iran, Israel, dan Qatar.
Kemenhaj mengusulkan pesawat yang mengangkut jamaah melalui rute selatan. Yakni melalui penerbangan di atas Samudra Hindia dan ruang udara di Kawasan Afrika Timur.
Peralihan rute ini, kata Irfan, akan meminimalkan risiko bahaya bagi jemaah. Meski harus ada yang dikorban dalam skenario ini. Waktu penerbangan menjadi jauh lebih lama. Juga potensi technical landing di negara ketiga bagi pesawat jarak pendek. ”Serta penambahan anggaran penerbangan,” terangnya.
Sementara skenario kedua adalah yang terburuk. Setidaknya bagi jemaah haji yang sudah bertahun-tahun menunggu keberangkatan ke tanah suci. Arab Saudi tetap membuka pelaksanaan haji, sementara Indonesia membatalkan keberangkatan.
Opsi ini diambil jika risiko keamanan dianggap terlalu besar bagi jemaah Indonesia. Pembatalan atas keinginan pemerintah Indonesia ini tentu juga memilki dampak besar. Salah satunya, pemerintah harus melakukan diplomasi tingkat tinggi. Agar tak tekor akibat pembatalan sepihak. ”Terutama agar biaya akomodasi, konsumsi, dan transportasi yang sudah disetor tidak hangus, melainkan dapat digunakan untuk tahun 2027 tanpa penalti,” kata Irfan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
