Bulan Sya'ban Persiapan Menyambut Ramadhan
Sururi, M.Hi-Adam-radarbengkulu
radarbengkuluonline.id -- Para pembaca rahimakumullah, tidak terasa hari ini kita sudah memasuki hari Jumat lagi. Untuk itu, redaksi sudah menyiapkan khutbah Jumat untuk pembaca semua. Judulnya, Bulan Sya'ban Persiapan Menyambut Ramadhan.
Materi ini ditulis oleh Ustadz Sururi, M.Hi. Rencananya, materi ini akan disampaikan saat menjadi khatib shalat Jumat di Masjid Besar Al-Amin, Jalan RE Martadinata Kelurahan Kandang, Kecamatan Kampung Melayu, Kota Bengkulu.
Apa saja isi materi khutbahnya, silahkan dibaca langsung tulisannnya dibawah ini. Selamat membaca! Semoga ada manfaatnya bagi kita semua.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Hari ini kita telah memasuki bulan Sya'ban. Bulan yang terletak diantara Rajab dan Ramadhan ini seringkali dilalaikan oleh manusia.
Hingga Rasulullah SAW bersabda yang artinya : ''Ini adalah bulan yang dilalaikan oleh kebanyakan manusia, yaitu antara bulan Rajab dan Ramadhan.'' (HR. An-Nasa'i)
Banyak orang yang lalai, bahkan sebagian menjadikan Sya'ban sebagai bulan pelampiasan. "Mumpung belum Ramadhan, kita puaskan maksiat."
"Mumpung belum Ramadhan. Nanti kalau sudah Ramadhan, puasa kita bisa tidak sah." Dan kalimat-kalimat senada kadang-kadang muncul dalam masyarakat kita sebagai bentuk betapa tertipunya manusia di bulan Sya'ban.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Pertama, Membersihkan diri (Taubat)
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalm kitab al-Ghuniyah menganjurkan agar umat Islam menyambut bulan Ramadhan dengan menyucikan diri dari dosa dan bertaubat dari kesalahan-kesalahan yang telah lampau.
Imbauan Syekh Abdul Qadir ini amat relevan. Sebab, jika hendak bertemu kawan saja seseorang merasa perlu untuk tampil bersih dan berdandan rapi, apalagi bila yang dijumpai ini adalah hari-hari yang penuh keistimewaan sebulan penuh.
Melakukan introspeksi diri, mengevaluasi buruknya perilaku, lalu memohon ampun kepada Allah adalah satu tahapan rohani yang penting agar kita semua memasuki bulan suci dengan pribadi yang juga suci. Dengan demikian, Ramadhan kelak tidak hanya menjadi ajang meningkatan jumlah ibadah, tapi juga nilai ketulusan. Dengan bahasa lain, Ramadhan bukan semata ajang penambahan kuantitas ritual ibadah, tapi juga kualitas penghambaan kita kepada Allah subhanahu wata’ala.
Kedua, sebagai tempat pengembangan intelektualitas
Di berbagai pesantren salaf dalam bulan Ramadhan sudah menjadi tradisi mengadakan pesantren kilat. Mengawali pengajian kilat tersebut, biasanya tak perlu menunggu datangnya bulan Ramadhan dahulu, melainkan sejak pertengahan hingga akhir Sya’ban.
Sya’ban menjadi momen untuk menambang amunisi keilmuan. Khususnya tentang agama. Tentunya menjadi keberkahan dan kemanfaatan tersendiri bisa menimba ilmu berbarengan dengan kemulyaan yang disediakan oleh kedua bulan tersebut.
Sebab, banyak nantinya orang yang beribadah tanpa ilmu menjadikannya sia-sia. Sebagaimana dituangkan dalam Al-Quran : ''Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.'' [Al Furqan:23].
Selain itu juga Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,
“Orang yang beramal tanpa ilmu bagai orang yang berjalan tanpa ada penuntun. Sudah dimaklumi bahwa orang yang berjalan tanpa penuntun akan mendapatkan kesulitan dan sulit untuk selamat. Taruhlah ia bisa selamat, namun itu jarang. Menurut orang yang berakal, ia tetap saja tidak dipuji bahkan dapat celaan.”
Ketiga, memperbanyak amal saleh
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
