Menjaga 'Api' Ramadan di Tengah Badai Dunia

Menjaga 'Api' Ramadan di Tengah Badai Dunia

Sururi, M.Hi-Adam-radarbengkulu

radarbengkuluonline.id -- Para pembaca  yang dimuliakan Allah Swt, tidak terasa hari ini kita sudah memasuki hari Jumat  lagi. Untuk itu, redaksi sudah menyiapkan khutbah Jumat untuk pembaca semua. Judulnya, Menjaga 'Api' Ramadan di Tengah Badai Dunia.
 

Materi ini ditulis oleh Ustadz Sururi, M.Hi. Rencananya, materi ini akan disampaikan saat menjadi khatib shalat Jumat di Masjid Besar Al Amin, Jalan RE Martadinata Kelurahan Kandang, Kecamatan Kampung Melayu, Kota Bengkulu.

Apa saja isi materi khutbahnya, silahkan dibaca langsung tulisannnya dibawah ini. Selamat membaca! Semoga ada manfaatnya bagi kita semua.


Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Marilah kita tingkatkan kualitas ketakwaan kita kepada Allah SWT. Takwa adalah satu-satunya "mata uang" yang nilainya tidak akan pernah jatuh di tengah inflasi dunia. Takwa adalah satu-satunya "perisai" yang tidak akan tembus oleh tajamnya fitnah akhir zaman.

Sidang Jumat yang dimuliakan Allah,
Hari ini kita berada di bulan Syawal. Gema takbir Idul Fitri mungkin mulai sayup terdengar, dan euforia lebaran pelan-pelan berganti kembali dengan rutinitas pekerjaan. Namun, pertanyaan besarnya adalah: Apakah "api" Ramadan masih menyala di dalam dada kita?


Dunia yang kita hadapi di luar pintu masjid ini sedang tidak dalam keadaan tenang. Kita menyaksikan Krisis Multidimensi yang nyata:


 * Krisis Ekonomi: Harga kebutuhan pokok yang tidak menentu, membuat banyak kepala keluarga cemas akan hari esok.


 * Krisis Kemanusiaan: Penindasan yang masih berlangsung di berbagai belahan dunia, termasuk luka yang belum sembuh di tanah Palestina, menguji sejauh mana nurani dan ukhuwah kita.


 * Krisis Moral: Di mana kejujuran seringkali dikalahkan oleh ambisi, dan pamer kemewahan dianggap lebih utama daripada kepedulian sosial.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Ramadan yang baru saja berlalu bukan sekadar ritual menahan haus. Ia adalah "Pusat Pelatihan" agar kita menjadi pribadi yang tangguh—pribadi yang justru semakin kuat saat ditekan oleh kesulitan. Ada tiga bekal Syawal untuk menjawab tantangan saat ini:


1. Spirit Pengendalian Diri (Self-Control)
Krisis global seringkali dipicu oleh sifat israf atau berlebihan. Allah berfirman: "Dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan." (QS. Al-A'raf: 31).
Bekal puasa mengajarkan kita untuk merasa cukup (Qana'ah). Di tengah ketidakpastian ekonomi, seorang Muslim harus menjadi pelopor gaya hidup bersahaja. Jika kita bisa mengendalikan nafsu konsumsi, kita sedang menyelamatkan masa depan keluarga dan umat.

2. Solidaritas yang Berkelanjutan
Zakat fitrah kemarin hanyalah pembuka. Di tengah krisis, jangan biarkan tangan kita kembali "menggenggam" erat. Sedekah di masa sulit adalah sedekah yang paling dicintai Allah. Saat sistem dunia goyah, "investasi" terbaik adalah menolong tetangga yang hampir putus asa karena himpitan hidup.

3. Optimisme Iman di Tengah Keputusasaan
Dunia mungkin sedang menyebarkan ketakutan melalui berita-berita gelap. Namun, seorang mukmin diajarkan bahwa "Inna ma'al 'usri yusra"—Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Jangan biarkan berita krisis merampas ketenangan salat kita. Kita punya Allah Al-Ghani (Maha Kaya). Tugas kita adalah ikhtiar yang jujur, lalu biarkan Allah yang mengatur hasilnya.

Jamaah yang dimuliakan Allah,
Sebagai penutup, mari kita camkan satu hal: Ramadan telah pergi, tapi Tuhan Ramadan tetap ada.
Jangan biarkan Syawal menjadi bulan "balas dendam" untuk kembali ke kebiasaan buruk yang lama. Jika dunia sedang gelap karena krisis, jadilah Anda "lilin" yang menerangi sekitarnya.


 * Jadilah pedagang yang jujur saat orang lain menipu.
 * Jadilah pekerja yang amanah saat orang lain mencari jalan pintas.
 * Jadilah manusia yang peduli saat orang lain masa bodoh terhadap penderitaan sesama.


Dunia tidak akan berubah hanya dengan keluhan. Dunia akan berubah ketika alumni Ramadan mempraktikkan nilai-nilai keshalihan di pasar, di kantor, dan di tengah masyarakat.

 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: