Gaya Hidup Anak Muda Seperti Ini Bisa Bikin Usus Bengkak, Ini Cara Mengatasinya

 Gaya Hidup Anak Muda Seperti Ini Bisa Bikin Usus Bengkak, Ini Cara Mengatasinya

Gaya Hidup Anak Muda Seperti Ini Bisa Bikin Usus Bengkak, Ini Cara Mengatasinya-Tim Redaksi/Ist-radarbengkulu


radarbengkuluonline.id, Jakarta  - Gaya hidup modern yang identik dengan kepraktisan dan serba cepat menyimpan risiko tersembunyi bagi kesehatan pencernaan. Kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji dan junk food membuat kesehatan pencernaan terganggu.


Seperti dikutip dari laman harian disway.id, banyak anak muda tak sadar kebiasaan sehari-hari itu bisa memicu gangguan usus. Salah satunya adalah peradangan atau pembengkakan yang dikenal secara medis sebagai intestinal inflammation.

BACA JUGA:Sukses Benahi Sektor Pariwisata, Penataan Pantai Panjang oleh Pemkot Tuai Apresiasi Luas


Kondisi tersebut berkaitan dengan masalah pencernaan kronis seperti irritable bowel syndrome (IBS) atau inflammatory bowel disease (IBD). Gangguan itu mengancam kualitas hidup dan produktivitas sehari-hari jika tidak ditangani dengan tepat.

Nah, berikut ini setidaknya ada enam gaya hidup anak muda yang perlu diwaspadai karena berpotensi memicu peradangan usus:


1. Pola Makan Serba Instan dan Rendah Serat 
Makanan cepat saji, olahan pabrik, dan menu tinggi lemak jenuh tapi minim serat menjadi pilihan praktis bagi banyak anak muda. Sayangnya, jenis makanan tersebut rawan mengganggu keseimbangan mikrobiota usus. Itu adalah komunitas bakteri baik yang berperan penting dalam pencernaan, imunitas, dan regulasi inflamasi.


Saat bakteri menguntungkan berkurang dan bakteri patogen berkembang, dinding usus rentan mengalami iritasi kronis yang memicu respons peradangan. Dalam jangka panjang, kondisi seperti itu berpotensi menjadi gangguan pencernaan fungsional atau penyakit inflamasi usus. 

2. Sering Begadang dan Kurang Tidur Berkualitas
Kurang tidur tidak hanya berdampak pada kelelahan fisik dan penurunan konsentrasi, tetapi juga mempengaruhi kesehatan usus. Ritme sirkadian tubuh (jam biologis yang mengatur berbagai fungsi fisiologis) turut mengatur aktivitas mikroba usus dan respons imun.


Saat pola tidur tidak teratur atau durasi tidur tidak mencukupi, keseimbangan mikrobiota usus dapat terganggu.
Penelitian menunjukkan bahwa kurang tidur kronis berkaitan dengan peningkatan marker (penanda) inflamasi dan risiko gangguan pencernaan fungsional.

3. Konsumsi Minuman Manis Berlebihan 
Minuman tinggi gula, mulai dari soda, jus kemasan, hingga kopi kekinian dengan tambahan sirup dan krim, makin digemari anak-anak muda. Namun, asupan gula berlebih dapat memicu fermentasi berlebihan di usus oleh bakteri tertentu, menghasilkan gas dan senyawa pro-inflamasi.


Kondisi tersebut tidak hanya menyebabkan kembung dan tidak nyaman, tetapi dalam jangka panjang dapat meningkatkan permeabilitas usus (leaky gut) dan memicu respons imun yang tidak diinginkan.

4. Jarang Bergerak
Aktivitas fisik yang minim seperti pekerjaan kantoran, belajar daring, atau duduk di depan layar, memperlambat motilitas usus. Itu adalah gerakan alami yang membantu makanan bergerak melalui saluran pencernaan

Waktu pergerakan usus melambat, gas dan sisa pencernaan menumpuk. Yang kemudian terjadi adalah perut kembung, begah, dan dalam beberapa kasus, memicu iritasi dinding usus. Aktivitas fisik ringan justru terbukti membantu merangsang pergerakan usus dan mengurangi marker inflamasi sistemik.

5. Stres Kronis yang Tidak Terkelola: Usus sebagai "Otak Kedua" 
Usus sering dijuluki sebagai 'otak kedua' karena memiliki jaringan saraf enterik yang kompleks dan memproduksi sekitar 90 persen serotonin tubuh. Yaitu, neurotransmitter yang mengatur suasana hati. Komunikasi dua arah antara otak dan usus, yang dikenal sebagai gut-brain axis, membuat kesehatan mental dan pencernaan saling memengaruhi.


Stres berkepanjangan dapat mengubah komposisi mikrobiota usus, meningkatkan permeabilitas dinding usus, dan memperburuk gejala gangguan pencernaan seperti IBS. Sebaliknya, kondisi usus yang tidak sehat juga dapat memengaruhi mood dan respons terhadap stres.

6. Kebiasaan Menahan Buang Air Besar 
Sepertinya terlihat remeh, tapi kebiasaan menunda buang air besar dengan alasan sibuk, malu, atau tidak nyaman dengan fasilitas umum, dapat mengganggu ritme alami usus.
Feses yang tertahan lebih lama di usus besar akan kehilangan lebih banyak air, menjadi keras, dan lebih sulit dikeluarkan.


Kondisi ini tidak hanya memicu konstipasi, tetapi juga dapat menyebabkan iritasi mekanis pada dinding usus dan penumpukan toksin. Dalam kasus ekstrem, kondisi itu meningkatkan risiko divertikulosis atau peradangan kronis.

Tips Menjaga Kesehatan Usus di Tengah Gaya Hidup Modern
Agar kesehatan usus tetap optimal meski sibuk, terapkan strategi berikut:


1. Perbanyak serat prebiotik: Bawang putih, bawang bombay, pisang, dan oat mengandung serat yang menjadi "makanan" bagi bakteri baik usus.


2.  Cukupi hidrasi: Minum air putih 8–10 gelas per hari membantu melunakkan feses dan mendukung fungsi barrier usus.


3.  Gerak teratur: Olahraga ringan 150 menit per minggu terbukti meningkatkan keragaman mikrobiota usus.


4.  Kelola stres secara proaktif: Luangkan waktu 10–15 menit per hari untuk aktivitas menenangkan seperti meditasi atau mendengarkan musik.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: