Sudah Ada Titik Terang, Perdamaian Iran dan Amerika Serikat Makin Dekat

Sudah Ada Titik Terang, Perdamaian Iran dan Amerika Serikat Makin Dekat

Iran Buka Suara soal Kesepakatan dengan AS, Isu Nuklir dan Sanksi Jadi Pembahasan Utama--Tim Redaksi/Ist-radarbengkulu

radarbengkuluonline.id, Jakarta - Pemerintah Iran mengungkapkan bahwa peluang tercapainya kesepakatan damai dengan Amerika Serikat semakin terbuka lebar. Meski demikian, sejumlah poin penting masih menjadi perdebatan dalam tahap akhir negosiasi kedua negara.

Seperti dikutip dari laman disway.id, Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah menyampaikan bahwa proses perundingan sudah berada di fase finalisasi. Pernyataan tersebut ia unggah melalui platform Truth Social setelah melakukan komunikasi dengan sejumlah pemimpin negara Timur Tengah dan Asia.

BACA JUGA:TNI Terjunkan Batalyon Tempur di Jakarta

Presiden Donald Trump mengaku telah berbicara dengan perwakilan dari Saudi Arabia, United Arab Emirates, Qatar, Pakistan, Turkey, Egypt, Jordan, dan Bahrain terkait perkembangan pembicaraan damai tersebut. Menurut Donald Trump, sebagian besar isi kesepakatan sudah berhasil dinegosiasikan dan hanya menyisakan detail teknis sebelum diumumkan secara resmi kepada publik dunia.

Donald Trump juga menyinggung soal pembukaan kembali Strait of Hormuz yang selama ini menjadi salah satu jalur perdagangan minyak paling penting di dunia. Namun klaim tersebut langsung memicu respons keras dari pihak Iran.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baqaei, mengatakan fokus utama pembahasan saat ini adalah menghentikan perang dan mengakhiri tekanan militer yang dilakukan Amerika Serikat di kawasan. Ia menjelaskan bahwa isu program nuklir Iran belum menjadi topik utama dalam negosiasi tahap awal.

Sedangkan pembahasan mengenai nuklir disebut baru akan dilakukan dalam 30 hingga 60 hari ke depan apabila kerangka kesepakatan damai berhasil diselesaikan. Iran juga menegaskan bahwa pengelolaan Selat Hormuz tetap berada di bawah kendali penuh pemerintah Teheran.

Media pemerintah Iran bahkan membantah pernyataan Trump yang menyebut jalur laut tersebut akan dibuka sepenuhnya seperti sebelum konflik terjadi. Menurut laporan media semi resmi Iran, negara itu memang akan mengizinkan lalu lintas kapal kembali meningkat. Namun seluruh aturan pelayaran, izin melintas, hingga pengaturan jalur tetap menjadi kewenangan penuh Republik Islam Iran.

Situasi ini menunjukkan bahwa meskipun proses diplomasi mengalami kemajuan, hubungan Iran dan Amerika Serikat masih diwarnai ketegangan besar, terutama terkait keamanan kawasan dan isu nuklir.

Di sisi lain, Washington tetap mempertahankan blokade terhadap sejumlah pelabuhan Iran. Pemerintah AS juga terus menegaskan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir serta harus menyerahkan uranium dengan tingkat pengayaan tinggi.

Sementara itu Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, menyebut telah ada perkembangan positif dalam proses negosiasi. Namun ia mengingatkan bahwa risiko gagalnya kesepakatan tetap terbuka apabila muncul perselisihan pada menit-menit akhir.

Untuk upaya mediasi juga melibatkan Asim Munir dari Pakistan yang melakukan kunjungan ke Teheran untuk bertemu Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Sejumlah sumber diplomatik menyebut rancangan kesepakatan nantinya akan mencakup deklarasi resmi berakhirnya perang, pembukaan kembali Selat Hormuz, penghentian blokade pelabuhan Iran, serta negosiasi lanjutan terkait program nuklir Teheran.

Iran sendiri menegaskan bahwa pencabutan sanksi ekonomi tetap menjadi syarat utama dalam proses perundingan. Pemerintah Teheran juga menginginkan penghentian konflik di seluruh kawasan, termasuk di Lebanon. Meski berbagai pernyataan optimistis mulai bermunculan, negosiasi damai Iran dan Amerika Serikat masih menghadapi jalan panjang sebelum benar-benar mencapai kesepakatan final yang mengikat kedua belah pihak.

 

 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: