Dunia yang Sementara dan Hisab yang Selamanya
Ahmad Sidik, S.Mn-Adam-radarbengkulu
radarbengkuluonline.id -- Para pembaca rahimakumullah, tidak terasa hari ini kita sudah memasuki hari Jumat lagi. Untuk itu, redaksi sudah menyiapkan khutbah Jumat untuk pembaca semua. Judulnya, Dunia yang Sementara dan Hisab yang Selamanya.
Materi ini ditulis oleh Ustadz Ustadz Ahmad Sidik, S.Mn. Rencananya, materi ini akan disampaikan saat menjadi khatib shalat Jumat di Masjid Nurul Yaqin, Jalan Setia Negara Kelurahan Kandang Mas, Kecamatan Kampung Melayu, Kota Bengkulu.
Apa saja isi materi khutbahnya, silahkan dibaca langsung tulisannnya dibawah ini. Selamat membaca! Semoga ada manfaatnya bagi kita semua.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Marilah kita tundukkan hati, menengadahkan tangan penuh harap, seraya memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dzat yang tak pernah berhenti melimpahkan nikmat—nikmat yang terlihat maupun yang tersembunyi.
Nikmat iman yang menghidupkan jiwa, nikmat Islam yang menuntun langkah, serta nikmat taufiq dan hidayah, hingga hari ini kita masih diberi kesempatan menapakkan kaki di tempat yang mulia ini.
Semoga setiap langkah yang kita ayunkan, setiap detik yang kita korbankan, menjadi saksi ketaatan di hadapan-Nya kelak. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam—cahaya di tengah gelapnya zaman, penuntun di saat manusia kehilangan arah.
Semoga shalawat itu juga mengalir kepada keluarga beliau, para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, hingga kita semua yang merindukan syafaatnya di hari yang tiada lagi pertolongan selain darinya.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada jamaah sekalian: marilah kita perkuat takwa kita kepada Allah. Takwa bukan sekadar kata, namun cahaya yang menuntun langkah. Ia adalah benteng saat godaan datang, ia adalah penuntun saat jalan terasa gelap.
Takwa adalah bekal terbaik—bekal yang tak akan usang oleh waktu, tak akan lapuk oleh usia, dan tak akan hilang meski Dunia sirna. Semoga kita termasuk hamba-hamba yang dijaga dalam ketaatan. .
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Seringkali manusia terlena…Bukan karena tidak tahu, tapi karena terlalu sibuk mengejar yang fana. Hati menjadi lalai, lisan lupa bersyukur, mata tak lagi peka terhadap tanda-tanda kekuasaan Allah. Dunia dipeluk erat, seakan ia abadi. Harta dikumpulkan tanpa henti, seolah kematian tak akan datang menghampiri. Padahal Allah telah mengingatkan kita dengan firman-Nya:
Artinya, “Berbangga-bangga dalam memperbanyak (Dunia) telah melalaikanmu, sampai kamu masuk ke dalam kubur,” (QS. at-Takatsur [102]: 1-2).
Ayat ini bukan sekadar bacaan…Ia adalah teguran lembut yang menusuk hati. Bahwa kesibukan kita—yang kita banggakan—bisa jadi justru menjauhkan kita dari tujuan sejati. Kita terlalu sibuk menumpuk Dunia, hingga lupa menyiapkan bekal menuju akhirat. Padahal…Kematian tidak pernah menunggu kesiapan. Ia datang tepat pada waktunya.
Hadirin Rahimakumullah
Islam tidak melarang kita mencari Dunia. Namun Dunia jangan sampai menutup mata hati kita. Carilah harta, tapi dengan cara yang halal. Nikmati rezeki, tapi jangan lupa siapa pemberinya. Gunakan nikmat, tapi ingat akan pertanggungjawabannya.
Sebab setiap nikmat akan ditanya…Setiap langkah akan diminta jawabannya… Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya, “Tidak akan bergeser langkah bani Adam pada hari Kiamat… hingga ditanya tentang lima perkara…” (HR. at-Tirmidzi).
Lima pertanyaan…
1. Namun cukup untuk mengguncang hati yang lalai.
2. Tentang umur—yang sering kita habiskan tanpa arah.
3. Tentang masa muda—yang kadang kita sia-siakan dalam kelalaian.
4. Tentang harta—yang kita kumpulkan, tapi lupa asal dan penggunaannya.
5. Dan tentang ilmu—yang kita tahu, namun belum kita amalkan.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Mari kita bertanya pada diri kita… Dalam sunyi… dalam kejujuran hati… Sudahkah umur kita bernilai ibadah?
Sudahkah masa muda kita menjadi saksi ketaatan? Sudahkah harta kita bersih dari yang haram? Sudahkah ilmu kita hidup dalam amal?
Jika belum…maka hari ini adalah waktu terbaik untuk memperbaiki. Jangan tunggu tua untuk bertobat. Jangan tunggu sakit untuk mendekat. Jangan tunggu sempit untuk bersujud. Sebab waktu tidak pernah kembali…Dan kesempatan tidak selalu datang dua kali.
Allah kembali mengingatkan kita yang artinya, “Kemudian, kamu pasti akan ditanya pada hari itu perihal kenikmatan,” (QS. at-Takatsur [102]:
Nikmat yang kita rasakan hari ini…akan menjadi pertanyaan di hari esok. Bahkan anggota tubuh kita…yang hari ini kita gunakan… akan menjadi saksi yang tak bisa berdusta:
Artinya, “Pada hari ini Kami membungkam mulut mereka. Tangan merekalah yang berkata kepada Kami dan kaki merekalah yang akan bersaksi terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan,” (QS. Yasin [36]: 65).
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Maka berhati-hatilah…Dalam setiap langkah… dalam setiap pilihan…Sebab semua tercatat. Tak ada yang terlewat. Tak ada yang tersembunyi.
Allah berfirman yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok,” (QS. al-Hasyr [59]: 18).
Hari esok itu… bukan sekadar hari Senin atau Selasa… Namun hari ketika semua rahasia dibuka…Hari ketika semua amal ditimbang…
Hadirin yang dimuliakan Allah
Jangan sampai kita menyesal…Saat penyesalan sudah tak lagi berguna.Gunakan sisa umur ini…Sebagai kesempatan memperbaiki diri. Isi hari-hari kita dengan ibadah…Hiasi hidup kita dengan amal saleh…Karena sejatinya…Yang kita bawa pulang bukan harta…Bukan jabatan…Namun amal dan doa.
Maka janganlah kita terlena oleh Dunia yang fana. Kejarlah akhirat, niscaya Dunia akan mengikuti. Gunakan nikmat sesuai dengan kehendak pemberinya. Jangan jadikan harta sebagai jalan menuju murka-Nya.
Semoga Allah senantiasa membimbing langkah kita… Menjaga hati kita…Dan menguatkan kita dalam ketaatan...Amin ya robbal alamin.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
