Aktualisasi Nilai Kehidupan dari Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim AS

Kamis 29-06-2023,00:01 WIB
Reporter : Adam
Editor : Yar Azza

 

 

Lihatlah bagaimana fenomena keluarga hari ini, tidak sedikit bermasalah dan berantakan,  orang tua minim keteladanan, anak-anak jauh dari ketaatan,  aturan agama nomor sekian. Maraknya perselingkuhan hingga ramai fakta perceraian.  

 

 

Kedua,  membuka ruang dialog untuk bermusyawarah. Mari kita menyimak kembali sebuah komunikasi dan dialog Ibrahim selaku ayah dan Ismail sebagai anak pada saat menceritakan perintah dalam mimpi.  Diksi yang digunakan adalah “wahai anakku, “ dan “bagaimana pendapatmu”  merupakan isyarat luar biasa bagi model komunikasi dan dialog seorang ayah dan anak sebelum memutuskan sesuatu.

Ibrahim mengajak dialog, meminta pendapat, masukan, dan persetujuan Ismail. Ibrahim tampil sebagai seorang ayah yang demokratis di keluarga, dan mengutamakan dialog, serta tidak memaksakan kehendaknya sendiri.

 

 

Ketiga,  kecintaan kepada Allah di atas segalanya. Apa yang menyebabkan Ibrahim mau melaksanakan perintah? Apa juga yang membuat Ismail dengan tegas mengiyakan perintah untuk disembelih ayahnya? Apa yang menjadikan keluarga ini rela dan ikhlas untuk berkorban?

Tentu semua itu juga karena dilandasi cinta dan kecintaan kepada Allah melebihi dari kecintaan kepada selainNya. Maka, kecintaan Ibrahim  dan Ismail kepada Allah menjadikan keduanya rela  mengorbankan apa saja, termasuk hal yang paling dicintainya di dunia.

 

 

Keempat, nilai keikhlasan. Ikhlas emang tidak mudah, tapi niscaya dan harus diikhtiarkan juga. Rasa ikhlas itulah yang akan melapangkan jiwa, memudahkan semua yang kita lakukan. Apalagi dalam upaya mendekatkan diri kepada Allah. Untuk itu, kalau bukan karena keikhlasan dan ketaqwaan, maka Allah mengisyaratkan dalam QS. Al-Hajj: 37 bahwa  kurban yang kita lakukan dengan menyembelih hewan, menumpahkan darah dan daging yang disedekahkan tidak akan sampai kepada Allah.  

 

 

Kategori :