Malik menyahut, “Ya, semoga Allah memberi kebaikan kepada Amir. Saya akan berhenti dari perbuatan ini, suatu perhentian yang paling bagus yang tak seorang pun bisa menandingi perhentian saya dari profesi menyamun ini.”
Begitulah, sang pembegal itu ternyata memang sungguh-sungguh ingin berubah.
Sementara Gubernur Sa’id menepati janjinya. Ia berikan lima ratus dinar setiap bulannya. Hari demi hari, keislaman Malik semakin baik. Ia bahkan kemudian turut serta berjihad di jalan Allah.
Ia menjadi mujahid yang dikenal sangat gigih. Hingga akhirnya ia gugur syahid di medan perang. Benar-benar karunia yang sangat tinggi. Karena tidak semua orang diberi kesempatan untuk bisa berjihad. Karena setiap pejuang yang berjihad pun, tidak semuanya diberi karunia syahid.
Maka, siapapun kita jangan pernah bosan untuk berusaha mengejar tangga-tangga kesalehan. Dengan selalu berharap, semoga Allah menghapus kesalahan-kesalahan kita di masa silam, lalu menggantikannya dengan ampunan dan balasan yang lebih baik.
2. Berpikir Bijak dan Jernih
Berkah kesalehan yang lainnya adalah karunia Allah yang menjadikan orang-orang beriman itu mampu berpikir jernih dan bijak menghadapi hidup.
Hidup ini memerlukan bermacam kedewasaan. Mereka yang terlalu cengeng dan kekanak-kanakan, atau bahkan mereka yang arogan dalam menjalaninya bisa dipastikan akan tergelincir ke jurang kesengsaraan.
Negeri ini, telah mencatat banyak sekali tokoh-tokoh bijak. Yang mungkin semakin hari semakin langka. Diantara mereka barangkali adalah KH Ahmad Dahlan. Di usianya yang masih muda, ia telah hidup di jaman yang tumbuh subur kemusyrikan, bid’ah dan khurat. Padahal di satu sisi bangsa ini kala itu tengah menghadapi penjajah Belanda. Tetapi, Ahmad Dahlan muda tidak tinggal diam.
Sepulangnya dari bermukim dan menunaikan haji di Mekkah selama 5 tahun, di usianya yang baru 20 tahun ia mendalami hadits dan ilmu falak di Semarang. Pada 1902, dalam usia 34 tahun ia berangkat kembali ke Mekkah. Kali ini ia bermukim selama dua tahun. Waktu yang pendek ia gunakan secermat-cermatnya.
Pada 1904, ia pulang ke tanah air. Ia bertekad membebaskan umat dari kebekuan pikiran dan kemunduran. Maka KH Ahmad Dahlan berda’wah ke berbagai di tanah air. Namun, ia tidak “melupakan” mencari nafkah untuk keluarganya, dengan berjualan batik.