“Biasanya rata-rata harian Pertalite di angka 650 KL, sekarang melonjak jadi 714 KL per hari. Sementara Biosolar justru turun dari 250 KL menjadi 192 KL,” kata Nikho.
Naiknya permintaan Pertalite ini, menurut Nikho, tak lepas dari fenomena panic buying yang terjadi di tengah masyarakat. Banyak warga yang cemas kehabisan BBM, lalu buru-buru mengisi penuh tangki kendaraan meski belum betul-betul butuh.
“Ini refleksi dari kekhawatiran warga karena antrian panjang beberapa waktu lalu. Tapi kami imbau masyarakat tetap tenang, karena stok BBM aman dan distribusi kami tingkatkan,” tambahnya.
Sementara itu, menurunnya permintaan Biosolar diduga kuat akibat berhentinya aktivitas pengangkutan komoditas industri seperti batu bara dan Crude Palm Oil (CPO). Penyebabnya? Pelabuhan Pulau Baai sedang bermasalah.
“Sedimentasi alur pelabuhan menyebabkan kapal pengangkut tidak bisa bersandar. Aktivitas ekspor-impor melambat, dan truk-truk angkutan pun ikut berhenti,” jelas Nikho.
Saat ini, satu-satunya titik distribusi lokal di Bengkulu, yakni Fuel Terminal (FT) Pulau Baai, kondisinya masih lumpuh. Nikho menyebut, pendangkalan alur pelabuhan membuat kapal tanker tidak bisa masuk untuk bongkar muatan BBM.
“FT Pulau Baai masih kosong. Sementara distribusi ke Bengkulu kami alihkan lewat darat dari tiga titik, yakni IT Teluk Kabung, Panjang, dan FT Lubuk Linggau,” terang Nikho.(wij)