radarbengkuluonline.id, Jakarta -- Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) membuka kemungkinan untuk melakukan perombakan terhadap pelatih usai gagal meraih dari target pada ajang Thomas Cup 2026 di Denmark 2026 lalu.
Seperti dikutip dari laman disway.id, pernyataan tersebut diambil Wakil Ketua Umum (Waketum) PBSI, Taufik Hidayat agar adanya penyegaran dalam susunan pelatih serta membuat sistem promosi dan degradasi untuk para atlet di Pelatnas.
BACA JUGA: Defisit APBN Capai Rp 240 Triliun, Utang Pemerintah Hampir Tembus Rp 10 Ribu Triliun
"Sangat mungkin (adanya perombakan pelatih). Kenapa tidak. Kalau kamu kasih kesempatan, tetapi tidak ada perform, kenapa tidak," jelas Taufik di Jakarta.
Walaupun begitu, PBSI tidak dapat memastikan bahwa sistem degradasi dan promosi terhadap atlet pada waktu terdekat. Hal ini membuat adanya perbedaan dengan sebelum-sebelumnya yang biasanya pemanggilan dan pemulangan atlet dilakukan di akhir tahun.
Selain itu, langkah ini diambil untuk melakukan evaluasi bagi atlet terkait beberapa laga ke belakang yang tidak memenuhi target federasi.
"Kami disini mencari solusi yang terbaik. Bahwa olahraga ini tidak bisa ditunggu lagi, tiap hari latihan, tiap minggu, tiap bulan ada pertandingan. Jadi tidak bisa. Kita cari formula yang terbaiknya bagaimana," papar dia.
Untuk diketahui, saat tampil dalam ajang Thomas Cup 2026, Indonesia gagal menembus babak grup untuk pertama kalinya dalam sejarah. Kepastian itu setelah menelan kekalahan dalam pertandingan menghadapi Prancis di laga terakhir grup.
Sedangkan untuk sektor putri, perjalanan Indonesia tertahan di babak semifinal. Putri Kusuma Wardani dan kawan-kawan gagal ke final dalam dua edisi beruntun dan harus puas mendapat medali perunggu usai dihajar Korea Selatan.
Lebih lanjut Taufik menegaskan bahwa PBSI bertanggung jawab penuh atas hasil minor Indonesia di panggung Thomas & Uber Cup 2026. Ia pun ingin ke depan seluruh pihak memiliki semangat yang sama untuk membawa bulu tangkis Indonesia kembali berprestasi.
"Kita semua harus bertanggung jawab. Tidak ada yang memang pelatih, pemain juga ya zona nyaman ya enak-enakan saja di situ. Pastinya kita di sini butuh kerja tim yang sama. Kalau memang kita bisa sama-sama," ujar dia.
Saat tampil dalam ajang Thomas Cup 2026, Indonesia gagal menembus babak grup untuk pertama kalinya dalam sejarah.
Kepastian itu setelah menelan kekalahan dalam pertandingan menghadapi Prancis di laga terakhir grup.
Sementara itu, di sektor putri perjalanan Indonesia tertahan di babak semifinal. Putri Kusuma Wardani dan kawan-kawan gagal ke final dalam dua edisi beruntun dan harus puas mendapat medali perunggu usai dihajar Korea Selatan.
Taufik menegaskan bahwa PBSI bertanggung jawab penuh atas hasil minor Indonesia di panggung Thomas & Uber Cup 2026. Ia pun ingin ke depan seluruh pihak memiliki semangat yang sama untuk membawa bulu tangkis Indonesia kembali berprestasi.
"Kita semua harus bertanggung jawab. Tidak ada yang memang pelatih, pemain juga ya zona nyaman ya enak-enakan saja di situ. Pastinya kita di sini butuh kerja tim yang sama. Kalau memang kita bisa sama-sama," pungkas Taufik.