Bullying di Kampus Masalah yang Sering Dianggap Sepele

Selasa 19-05-2026,11:23 WIB
Reporter : radar
Editor : radar

 

Penulis: Elia Silviana Nababan dari Universitas Bengkulu fakultas ilmu sosial dan ilmu politik prodi S1 jurnalistik

Radar Bengkulu - Kampus harusnya berfungsi sebagai ruang yang selamat untuk memperoleh ilmu, berkembang, dan menjalin hubungan sosial. Namun, dalam kenyataannya, masih ada banyak pelajar yang menghadapi perundungan, baik secara bersemuka maupun melalui platform media sosial. Perbuatan bully di kawasan kampus biasanya dilihat sebagai sesuatu yang lumrah, seperti guyonan dari senior kepada junior, ejekan tentang fisik, merendahkan kemampuan akademis, hingga pengucilan dalam interaksi sosial. Namun, tindakan-tindakan ini bisa mengakibatkan dampak psikologis yang signifikan bagi mereka yang menjadi mangsa.

Perundungan di perguruan tinggi adalah isu sosial yang serius dan tidak boleh dipandang remeh karena dapat merugikan kesehatan mental para mahasiswa, mengurangi prestasi belajar, serta menciptakan suasana pendidikan yang tidak aman. Oleh karena itu, semua elemen dalam lingkungan akademik harus bersatu untuk mencegah dan mengatasi perundungan dengan sungguh-sungguh.

BACA JUGA:Mulai Juni 2026, Pemerintah Uji Coba Aplikasi IKD untuk Penerimaan Bansos Digital

Korban perundungan sering mengalami stres, kecemasan, berkurangnya kepercayaan diri, bahkan bisa berujung pada depresi. Banyak mahasiswa memilih bungkam karena khawatir dianggap lemah atau dijauhi rekan-rekan mereka. Jika persoalan ini dibiarkan, kondisi tersebut dapat berpengaruh pada ranah sosial dan akademik korban.

Berdasarkan data dari UNESCO, satu dari tiga peserta didik di seluruh dunia pernah mengalami perundungan. Walaupun data tersebut banyak bersinggungan dengan peserta didik di jenjang sekolah, situasi serupa pun tampak di lingkungan perguruan tinggi. Di samping itu, temuan survei yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menunjukkan bahwa kekerasan verbal dan perundungan masih menjadi salah satu tantangan di lingkungan pendidikan Indonesia.

Mahasiswa yang mengalami perundungan sering kali kehilangan semangat belajar sebab merasa tidak nyaman di dalam kelas maupun di lingkungan universitas. Dampaknya, fokus belajar berkurang, tugas-tugas sering terabaikan, dan kehadiran di kelas menjadi lebih jarang. Banyak korban akhirnya memutuskan untuk keluar dari organisasi atau kegiatan kampus karena cemas kembali menjadi objek ledekan. Apabila situasi ini berlanjut terus, cita-cita pendidikan untuk menghasilkan kaum muda yang inovatif dan berkeyakinan diri akan sulit terwujud.

Banyak orang berpikir bullying itu hanya kekerasan fisik, padahal perkataan yang menjatuhkan, mempermalukan fisik, sindiran di internet, sampai dikucilkan juga termasuk bullying. Jenis bullying verbal dan sosial malah lebih sering terjadi di lingkungan perkuliahan karena sering dianggap cuma candaan. Misalnya, mahasiswa dihina karena penampilan, asal usul ekonomi, cara bicara, atau kemampuan akademisnya. Padahal, lelucon yang terus berulang bisa menyakiti batin seseorang walau pelakunya tidak menganggapnya serius.

Sebagai institusi pendidikan, perguruan tinggi mengemban kewajiban menciptakan suasana yang kondusif dan menyenangkan bagi para mahasiswa. Oleh karena itu, perguruan tinggi perlu menawarkan jasa bimbingan, memberlakukan ketentuan ketat bagi pelaku perundungan, serta menyajikan pemahaman mengenai signifikansi saling menghormati. Di samping itu, mahasiswa pun harus menyadari kewajiban menghargai rekan mereka dan tidak menggunakan kelemahan individu lain sebagai objek candaan.

 

Melihat berbagai akibat yang dihasilkan, perundungan di universitas bukanlah persoalan sepele yang dapat diterima begitu saja. Perilaku tersebut mampu merusak kesehatan mental para korban, mengganggu kelancaran studi mereka, serta membentuk suasana pembelajaran yang buruk. Oleh sebabnya, keterlibatan aktif dari institusi perguruan tinggi serta para mahasiswanya sangat dibutuhkan untuk menghentikan aksi perundungan.

 

Perundungan di kampus perlu dihentikan sejak dini, seperti menjaga tutur kata dan menghargai keberagaman. Suasana kampus yang aman akan membantu para mahasiswa tumbuh lebih baik, baik dalam studi maupun pergaulan. Apabila semua orang memiliki kepedulian dan respek satu sama lain, kampus bisa menjadi lokasi yang nyaman bagi seluruh mahasiswa tanpa adanya rasa cemas atau terbebani.

Kategori :