Nilai Mata Uang Rupiah Menguat Hari Ini

Jumat 17-07-2026,20:01 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Editor : Azmaliar Zaros

radarbengkuluonline.id, Jakarta – Mata uang Rupiah ditutup menguat pada perdagangan Jumat, 17 Juli 2026. Meski dibayangi ketegangan geopolitik yang memanas di Timur Tengah.

Seperti dikutip dari laman harian disway, mata uang Garuda berhasil menguat 65 poin ke level Rp17.921 per dolar AS, setelah sebelumnya sempat mencatatkan penguatan hingga 85 poin dari penutupan sebelumnya di level Rp17.986.

BACA JUGA:Tambakberas Siap Sambut Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama

Menurut Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi, dinamika pasar yang dipengaruhi oleh dua faktor besar: eskalasi konflik di Timur Tengah dan data domestik yang solid. "Konflik Timur Tengah yang memasuki bulan kelima kembali memicu kekhawatiran global. Serangan terbaru terhadap target di Iran dan ancaman penutupan jalur minyak di Laut Merah telah membuat harga minyak mentah tetap tinggi," ujar Ibrahim dalam keterangan resminya, Jumat sore.  

Kondisi itu, lanjut Ibrahim, menjadi pedang bermata dua bagi ekonomi global. Harga energi yang melonjak berisiko menghidupkan kembali inflasi yang sempat melandai. Hal tersebut diprediksi akan menyulitkan langkah Federal Reserve (The Fed) dalam memangkas suku bunga acuannya.

Walaupun data ekonomi AS belakangan menunjukkan tekanan harga yang mereda, pasar kini lebih khawatir bahwa lonjakan harga energi akan membalikkan tren disinflasi yang diharapkan.

"Pejabat The Fed masih bersikap hati-hati. Mereka menegaskan bahwa risiko inflasi masih nyata dan membutuhkan data harga yang rendah selama beberapa bulan ke depan sebelum berani mengambil kebijakan pelonggaran suku bunga," jelasnya.

Untuk sisi lain, penguatan rupiah mendapatkan topangan dari fundamental ekonomi domestik yang menunjukkan sinyal positif. Bank Indonesia (BI) baru saja merilis hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) kuartal II-2026 yang mencatatkan pertumbuhan signifikan. 

Saldo Bersih Tertimbang (SBT) pada kuartal II-2026 tercatat berada di level 12,97%, meningkat dari sebelumnya 10,11%. Pertumbuhan ini didorong oleh sektor konstruksi, pertanian, serta industri akomodasi yang terdongkrak oleh periode liburan sekolah dan hari besar keagamaan. Selain itu, kapasitas produksi nasional juga meningkat ke angka 73,8%.

Walaupun untuk kuartal III-2026 responden memperkirakan adanya sedikit perlambatan dengan SBT di 11,75%, optimisme masih terjaga di sektor industri pengolahan dan perdagangan. Prompt Manufacturing Index (PMI) BI juga menunjukkan sektor manufaktur tetap berada di fase ekspansi, yakni di level 51,43%.

Menatap perdagangan Senin depan, Ibrahim memproyeksikan pergerakan rupiah akan tetap fluktuatif namun cenderung menguat dalam rentang Rp17.870 hingga Rp17.930 per dolar AS. Secara mingguan, mata uang ini diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.750 hingga Rp18.050 per dolar AS. 

"Pelaku pasar harus tetap waspada terhadap perkembangan geopolitik. Keputusan transaksi di pasar valuta asing memiliki risiko tinggi, sehingga analisis ini bersifat edukatif dan bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual aset," pungkas Ibrahim. 

 

Kategori :