Menenun Kain Kafan

Jumat 31-07-2026,00:03 WIB
Reporter : Adam
Editor : Azmaliar Zaros


الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ

“Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian.” (HR. Tirmidzi)

Jamaah rahimakumullah, Lihatlah di sekitar kita, berapa banyak orang yang dahulu duduk bersama kita, sekarang sudah berada di alam kubur. Berapa banyak orang yang dahulu tertawa bersama kita, hari ini tinggal nama di batu nisan. Berapa kali kita melihat bendera kuning berkibar di rumah tetangga. Berapa kali kita mengantarkan jenazah ke pemakaman.

Kita menyaksikan sendiri bagaimana tubuh seseorang dimandikan, dikafani, dishalatkan, lalu dimasukkan ke dalam liang lahat. Namun hati kita masih keras, seolah kematian hanya milik orang lain. Padahal demi Allah, antara Jumat pekan lalu dan Jumat hari ini, kita bukan hanya bertambah usia. Tetapi kita telah tujuh hari lebih dekat kepada kematian. Dan setiap hari yang berlalu berarti kain kafan kita semakin selesai ditenun.

Jamaah yang dimuliakan Allah

Boleh jadi kain kafan sebagian kita masih berupa kapas yang tumbuh di ladang. Boleh jadi sebagian lainnya sudah berubah menjadi benang.

Dan boleh jadi ada di antara kita yang kain kafannya sekarang sedang ditenun, sedang dilipat bahkan mungkin sudah tersimpan menunggu waktu untuk dipakaikan. Kita tidak pernah tahu, boleh jadi hari ini kita datang ke masjid dengan kaki kita sendiri. Tetapi bisa jadi beberapa hari lagi kita kembali ke masjid ini di atas pundak saudara-saudara kita. Allah SWT berfirman:


أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُّشَيَّدَة

“Di mana saja kalian berada, kematian akan mendapatkan kalian walaupun kalian berada di dalam benteng yang kokoh.” (QS. An-Nisa: 78)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, akan tiba hari kita mengancingkan baju untuk terakhir kalinya. Setelah itu  yang membuka pakaian kita adalah para pemandi jenazah. Akan tiba hari di mana jam tangan dan cincin kita dilepaskan. Tetapi yang melepaskannya adalah ahli waris yang akan membaginya. Akan tiba hari di mana kita menutup pintu rumah kita untuk terakhir kalinya. Dan ternyata kita tidak pernah lagi diberi kesempatan membukanya.

Karena setelah itu yang datang adalah ambulan dan suara tangisan keluarga. Maka wahai kaum muslimin, Selagi Allah masih memberi umur kepada kita, gunakan sisa benang kehidupan ini untuk menenun kain kafan dengan amal saleh. Tenunlah dengan taubat. Tenunlah dengan sujud.

Tenunlah dengan sedekah. Tenunlah dengan istighfar. Tenunlah dengan air mata taubat dan penyesalan kepada Allah. Karena ketika jasad kita telah dibungkus kain kafan, yang menemani kita di alam kubur hanyalah amal sholih kita. Bukan rumah kita, bukan kendaraan kita, bukan jabatan kita, bukan harta kita dan bukan keluarga maupun dzurriyyat kita.

Semoga Allah menjadikan kain kafan yang kelak membungkus tubuh kita sebagai kain kemuliaan, bukan kain penyesalan. 

Semoga khutbah ini bermanfaat…..wallahua’lam
 
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ اللَّهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ                                                                                      

Kategori :