Bahaya Hati yang Jauh dari Allah
Ahmad Sidik, S.Mn-Adam-Radar Bengkulu
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah
Dalam praktiknya kita masih sering melihat diri kita hanya mementingkan ibadah-ibadah atau amalan-amalan yang bersifat ceremony dan amalan lahiriah saja, tanpa mempertimbangkan sisi-sisi amalan hati (batin) yang sejatinya tidak kalah penting.
Sebagaimana baginda Nabi Muhammad menjelaskan hal ini dalam sabdanya:
Artinya: “Sungguh Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, melainkan melihat hati dan amal kalian,” (HR Muslim).
Hadits ini menunjukkan bahwa penilaian Allah tertuju pada hal-hal yang lebih dalam dari sekadar yang tampak dari tubuh dan yang terkesan mewah di mata kebanyakan manusia. Bukan kesempurnaan fisik maupun kekayaan harta benda, tetapi pada kualitas hati dan mutu perbuatan hamba-Nya.
Diperkuat riwayat tambahan oleh Imam Thabrani beliau menambahkan riwayat lain:
Artinya, “Siapa saja yang memiliki hati yang bersih, maka Allah menaruh simpati padanya. Kalian adalah anak cucu Adam. Tetaplah yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling takwa.” (HR. Ath-Thabrani).
Dari penjelasan hadits tersebut bisa kita simpulkan bahwa hati merupakan satu elemen penting bagi kehidupan orang mukmin. Di hati inilah tempat Allah Ta’ala melihat baik dan buruknya kita, di hati ini juga menjadi tempat komando bagi anggota tubuh yang lainnya.
Maka penting bagi kita untuk menjaga kebersihan dan kesucian hati, agar hati kita dipenuhi dengan ketakwaan. Jangan sampai hati kita kering, kotor dan dipenuhi dengan noda-noda kemaksiatan, sehingga hati kita merasa jauh dari Allah Ta’ala dan tidak dapat merasakan kehadiran-Nya.
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah
Hati yang mati, kering, gersang merupakan masalah yang serius. Hal ini dapat menyebabkan kehinaan yang nyata. Di antaranya, yang pertama adalah hilangnya rasa malu. Sebab utama hilangnya perasaan malu dari hati adalah hilangnya perasaan selalu diawasi oleh Allah Ta’ala.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
