Dampak Perang di Timur Tengah, Harga Minyak Dunia Naik Drastis

Dampak Perang di Timur Tengah, Harga Minyak Dunia Naik Drastis

Konflik Timur Tengah Picu Lonjakan Harga, Minyak Tembus 100 Dolar per Barel-Poto ilustrasi-

 

 

RADAR BENGKULU - Harga minyak melonjak hingga lebih dari 100 USD per barel pada Senin, 9 Maret 2026 akibat dari perang Israel dan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran.

Seperti dikutip dari laman harian disway, harga minyak dunia telah mengalami tren kenaikan sejak sepekan terakhir dipicu eskalasi konflik di Timur Tengah. Utamanya karena Iran memblokade Selat Hormuz yang menjadi jalur transit bagi 20-an persen minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.

Belum lagi kedua belah pihak dilaporkan menyasar infrastruktur energi dan bahan bakar minyak (BBM) di Timur Tengah dengan serangan bom, drone, dan rudal.

Tanggal 9 Maret 2026 siang, West Texas Intermediate (WTI) crude oil berfluktuasi antara USD101 hingga 102 per barel. Sementara Brent bisa mencapai USD105 per barel berdasarkan laman Trading Economics. Gangguan besar terhadap pasokan energi di kawasan ini akan mengancam kenaikan harga bagi konsumen dan bisnis di seluruh dunia.

BACA JUGA:THR ASN Hingga Pensiunan Cair Mulai 9 Maret Hingga 15 Maret 2026

Minyak mentah Brent sebagai patokan internasional, sempat naik lebih dari 20 persen pada hari Minggu, 8 Maret 2026 bahkan sempat mencapai lebih dari 114 USD per barel. Pada Senin pagi di Asia, harga minyak mentah Nymex light sweet naik lebih dari 26% menjadi 144,78 USD, sementara harga minyak mentah Brent naik hampir 24% menjadi 144,74 USD.

Hingga Senin pagi, tepatnya pada 02:30 GMT indeks acuan berada di sekitar 107,50 USD.

Lonjakan harga tersebut menandai pertama kalinya harga minyak berada di atas USD100 per barel sejak invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022, dilansir dari laman Al Jazeera.

Tak lama setelah kenaikan harga minyak mencapai lebih dari USD100 per barel ini, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuliskan sebuah unggahan di Truth Social yang menyatakan bahwa harga minyak jangka pendek adalah harga yang sangat kecil untuk dibayar setelah ancaman nuklir Iran diatasi. “Hanya orang bodoh yang berpikir sebaliknya!” tambah Trump dalam unggahannya.

Negara-negara Teluk Arab mengurangi produksi karena kehabisan ruangan penyimpanan, sebab barel minyak menumpuk tanpa tempat tujuan akibat penutupan Selat Hormuz, dilansir dari laman CNBC.

Sementara itu, kapal tanker enggan melintasi jalur air tersebut karena khawatir akan serangan di tengah kecamuk perang, yang pada awalnya sekitar 20% konsumsi minyak dunia diekspor melalui selat tersebut.(*)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: