Melihat Perjuangan Petani Jamur yang Bertahan Dimasa Pandemi

Melihat Perjuangan Petani Jamur yang Bertahan Dimasa Pandemi

Bank BRI terus mendorong geliat ekonomi, agar terus berputar dan berkontribusi pada pembangunan nasional. Berbagai kebijakan yang selaras dengan arahan pemerintah terus dikebut demi bergulirnya aktivitas ekonomi, yang saat ini tengah terpukul oleh hantaman pandemi Covid-19. Salahsatunya dengan terus menyalurkan kredit kepada pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), agar terus tumbuh dan bertahan.

AGUSTIAN - BENGKULU

Aktivitas bertani kerap identik dengan sawah dan perkebunan. Kegiatan bercocok tanam ini kerap dengan terik panas matahari, keringat, dan mengerahkan kemampuan otot. Tetapi, meski jarang digemari sebagai pilihan pekerjaan anak muda, kegiatan bertani punya daya tarik untung yang besar.

Seorang pengusaha budidaya jamur asal Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu Bakti Setiawan, berbisnis budidaya jamur tiram segar. Hasilnya lumayan, budidaya jamur yang dia kembangkan, mampu menghasilkan omzet Rp 2 hingga Rp 3 juta tiap bulannya. Ia mengatakan, modal awalnya hanya Rp 1,2 juta. Meski demikian untuk menjangkau keuntungan itu, ia perlu kerja keras. Selama tiga tahun, dia mengalami pahit manis usaha. Tiga tahun pertama, dia mengatakan, sulit menembus pasar. Kesulitan itu muncul karena anggapan bahwa jamur tiram yang dihasilkan, memiliki kandungan racun. Tapi, dia tak menyerah. Dia terus berusaha membuktikan hasil budidayanya akan sukses. Setelah, beberapa tahun, ia membuktikan diri. Permintaan jamur hasil budidayanya membludak.

Bahkan, Kini setiap bulan dia mengembangkan mitra dengan petani lokal, ditargetkan dapat memenuhi permintaan pasar. Dijelaskan Bakti, untuk semakin mengembangkan usahanya, ia memanfaatkan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) Bank BRI.

Menurutnya, program KUR sangat membantunya dalam mengembangkan usahanya dimasa pandemi Covid-19 seperti sekarang ini. Melalui Bank BRI sebagai bank penyalur, ia mengajukan pinjaman KUR sebesar Rp 25 juta. Dana tersebut dipakai untuk membeli kebutuhan bahan baku usahanya.

Menurutnya, syarat mengajukan KUR di BRI sangat mudah, tidak berbelit-belit dan memiliki jangka waktu pinjaman yang fleksibel yakni antara 12 bulan, 18 bulan, dan 24 bulan. Serta, fasilitas KUR BRI ini juga bebas biaya administrasi dan provisi. Selain itu, suku bunga yang diterapkan BRI KUR cukup ringan yakni 6 persen per tahun.

"Saya sudah dua kali mendapatkan pinjaman KUR dari BRI," jelasnya, Rabu (23/3) kemarin.

Dijelaskan, ia menggunakan fasilitas program KUR dengan plafon kredit Rp 25 juta dan tenor kredit 24 bulan atau 2 tahun untuk membiayai usahanya, seperti untuk membeli bibit, membuat kumbung dan lainnya.

"Keuntungan bersih yang saya dapatkan dari usaha ini sekitar Rp 1,2 juta lebih," ungkapnya.

Diterangkan dia, untuk sistem pemasaran dagangannya yang ia geluti ini, ia memanfaatkan sosial media seperti facebook, Whatsapp dan lainnya dengan harga Rp 20.000 perkilogram. Jika pelanggan yang memesan agak jauh maka ditambah biaya ongkos kirim.

Ditambahkannya, untuk pelanggan yang membeli usaha jamur tiram segar miliknya berasal dari berbagai daerah di Provinsi Bengkulu, diantaranya Kota Bengkulu dan Kabupaten Bengkulu Tengah (Benteng).

"Dengan adanya bantuan KUR bisa menambah modal saya untuk mengembangkan usaha sehingga bisa semakin berkembang dan tumbuh dimasa pandemi Covid-19 ini," katanya.

Dibagian lain, Pimpinan Cabang BRI Bengkulu Ronaldo Nasution mengatakan, Bank BRI terus berkomitmen membantu para pelaku usaha UMKM dimasa pandemi Covid-19. Salahsatunya dengan pemberian KUR bagi pelaku UMKM.

Selain menyalurkan KUR,lanjutnya, BRI Bengkulu juga pernah menggelar pelatihan bagi 100 pelaku UMKM di Bengkulu melalui program CSR BRI Peduli.

"Pelatihan tersebut diselenggarakan oleh BRI untuk meningkatkan kapabilitas UMKM untuk go moderen, go digital, go online dan go global," jelasnya. (ags)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: