Inilah Riwayat Selingkar Tanah Bengkulu Tempo Dulu (28), Dibuat Undang-Undang Adat Lembaga Melayu

Inilah Riwayat Selingkar Tanah Bengkulu Tempo Dulu (28), Dibuat Undang-Undang Adat Lembaga Melayu

Inilah Kantor Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Bengkulu yang terletak di Jalan Soeprapto Dalam, Kelurahan Betungan-Azmaliar Zaros-

 

PENGANTAR REDAKSI:

Kota Bengkulu merupakan ibukota Provinsi Bengkulu. Kota yang memiliki nama kelurahan yang unik-unik itu juga memiliki riwayat tempo dulu. Apa itu? Yaitu, Selingkar Tanah Bengkulu Tempo Dulu. Bagaimana riwayatnya, silakan baca laporan khusus wartawan RADARBENGKULUONLINE.COM    itu secara bersambung  ini sampai tuntas. 

Walaupun tulisan ini belum lengkap, setidaknya bisa jadi bahan masukan untuk semua pihak. Kalau pun ada kekurangan, ini bisa diperbaiki oleh tokoh masyarakat Bengkulu untuk menuju ke arah kesempurnaan.  (*)

 

 

Dibuat Undang-Undang Adat Lembaga Melayu

AZMALIAR ZAROS - Kota Bengkulu

 

RADARBENGKULUONLINE.COM - Tuan Daeng Mobela II ini kawin sama Entjik Dajang Siti Nisa dan Entjik Seri. Istananya bernama Tembok Tengah Padang. Meningal dunia di dalam titah pekerjaan Gubernemen Wolanda pada tanggal 7 Mei 1832.

Kuburan Tuanku Daeng Mobela II ini di Gobak, yakni Tepi Pantai sebelah kiri menurun ke Pasar Bengkulu. Gedung tempat meninggalnya ini terbuat dari batu tembok.

Pada masa Tuan Daeng Mobela II ini telah dibuat buku satu buah Undang-Undang Adat Lembaga Melayu yang dipakai Raja dan Penghulu dalam negeri Bangkahulu . Undang-undang itu ditandatangani oleh Raja Bangkahulu.

Yaitu Tuanku Pangeran Lenggang Alam . Tanda tangan Pangeran Raja Chalifah, tanda tangan  Tuanku Daeng Mobela II dan tanda tangan WG H.R.Lewis Magistraat Pornted bij Coaand baijlis 5 Gt Q a cen street Lencolor Sem Filds. 

Sewaktu Tuanku Daeng Mobela II meninggal dunia, maka kekuasaan kepala dagang dipindahkan oleh Gobernemen kepada bangsa raden-raden. Yaitu Raden Muhammad Zen gelar Raden Aria Surya Adiningrat .

Ia diangkat jadi kepala dagang karena dalam turunan Tuanku Daeng Mobela. Karena ketika itu belum ada yang patut. Raden Aria Suria Adiningrat ini lahir pada tahun 1771 dan wafat tahun 1853.

Kuburannya di Surau Lama, yaitu kuburan empat persegi berdinding tembok yang berjeruji. Serbermula negeri Bangkahulu tatkala di bawah perlindungan kompeni Inggris, maka raja Bangkahulu ada kuasa dengan kekuasaan yang cukup atas tanah airnya.

Pada tahun 1812 Raden Muhammaad Zen , anak dari Raden Temanggung Wirioadiningrat pergi ke Madura akan ziarah pada sekalian kaum familinya.

Waktu itu ia adalah berpangkat dengan pangkat officier dari millitair dan kembalinya membawa beberapa tambo keturunan dari raja-raja Madura. Dengan tambo itulah jadi asal segala tambo keturunan bangsa Raden-raden di Bangkahulu.

 

Pada tahun 1818 R.M. Zen diangkat jadi offisier Bugis Bompang Englist. Dalam pada itu ia dipindahkan di Lais menjadi wakil kepala pemerintahan  di Zaman Inggris.

Pada tahun 1826, yaitu tanggal 14 Maret, turunan besluid dari Gubernumen Wolanda pada R.M.Zen yaitu besluit Wakil Tuan Besar buat memerintah di Lais dan sekalian orang isi negeri hendaklah hormat kepadanya, sebagaimana biasa kehormatan pada zaman Inggris.

Pada tahun 1835 diangkat R.M. Zen jadi kapten Hendrabil dari segala militer dalam residen di Bangkahulu dan jadi Hoafd Nrumdelingen di Bangkahulu mengantikan Tuan Daeng Mobela. Sebab anaknya belum patut menjabat pekerjaan itu.

R.M.Zen beristana di Karang Konsan. Kemudian ditukar nama Kembang Melur. Adapun pangkat  tersebut lebih diberati atas bangsa raja-raja daripada Daeng. Karena mengingat janji dimasa Tuan Daeng Mobela II yang datang dari Indrapura yang isinya bahwasanya ia ada hak mempunyai pangkat kemiliteran.

Karena keadaan negeri dimasa itu tiada takut atas siapa saja, melainkan pada bangsa raja-raja juga. Apalagi bangsa raja-raja daripada Daeng yang telah menaruh tangan besi kepada sekalian orang yang membuat kaum kompelat perusuh.

Kerusuhan itu adalah dari masa Tuan Daeng Mobela I sampai masa Tuan Daeng Mobela II. Tetapi semasa R.M Zen menggantikan pangkat Tuanku Daeng Mobela II, maka kerusuhan sudah berkurang.(bersambung)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: