Trump Didesak Parlemen AS Tarik Pasukan dari Perang Iran

Trump Didesak Parlemen AS Tarik Pasukan dari Perang Iran

Parlemen AS, House of Representatives meloloskan resolusi yang mendesak trump menarik pasukan AS mundur dari perang di Iran-Tim Redaksi/Ist-radarbengkulu

radarbengkuluonline.id, Jakarta  - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kini berada di bawah tekanan besar untuk menemukan jalan keluar dari perang di Iran.

Perang yang dimulai dengan serangan gabungan AS-Israel ke Ibu Kota Iran pada akhir Februari 2026 lalu telah memberikan tekanan hebat terhadap perekonomian dunia.

BACA JUGA:Gelapkan Uang Miliaran, Eks Karyawan CV Mandiri Sejahtera Jalani Sidang di PN Bengkulu

Seperti dikutip dari laman harian disway, kebijakan perang Trump ini juga terbukti tidak populer di dalam negeri, terutama menjelang pemilihan umum paruh waktu (midterm elections) yang kian dekat. Meskipun pertempuran sebagian besar telah mereda sejak 8 April, kemajuan menuju kesepakatan akhir kerap kali terganggu oleh insiden pertempuiran sporadis.

Salah satunya terjadi pada Rabu kemarin, 3 Juni 2026 ketika AS menyerang sejumlah target di Iran, yang kemudian dibalas oleh pihak Iran dengan melancarkan serangan ke Kuwait.

Akibat eskalasi tersebut, empat anggota parlemen dari Partai Republik yang harusnya mendukung Trump, bergabung dengan perwakilan Partai Demokrat dalam voting hari Rabu untuk membatasi kewenangan perang Trump.  Dengan bantuan empat legislator republik tersebut, voting tersebut menang dengan suara 215 banding 208. Pemungutan suara ini memenangkan resolusi yang memerintahkan penarikan pasukan Amerika Serikat dari perang Iran.

"Ini adalah pesan yang keras dan tidak ambigu kepada Donald Trump atas nama rakyat Amerika: sudah waktunya untuk mengakhiri perang pilihan yang sangat tidak populer dan ilegal di Iran," tulis perwakilan Demokrat melalui akun resmi mereka di media sosial X.

Meskipun demikian, resolusi tersebut sebagian besar masih bersifat simbolis. Presiden Amerika Serikat memiliki hak veto untuk membatalkan tindakan tersebut jika nantinya berhasil mendapatkan persetujuan di tingkat Senat. Dalam dengar pendapat di Kongres, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyampaikan bahwa cadangan uranium milik Iran yang sudah diperkaya (highly enriched uranium) menjadi pusat pembahasan utama dengan pihak Tehran.

Washington bersikeras bahwa Tehran harus menyerahkan uranium yang diperkaya hingga mendekati tingkat senjata (weapons-grade) tersebut, menyetujui pembatasan aktivitas nuklirnya, serta membuka kembali Selat Hormuz. Di sisi lain, Iran telah lama mengklaim hak mereka atas pengayaan uranium. Teheran juga memberikan syarat tambahan untuk kesepakatan damai, yaitu penghentian konflik paralel yang terjadi di Lebanon, tempat Israel saat ini sedang bertempur melawan kelompok bersenjata Hizbullah yang didukung oleh Iran.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Rabu juga telah memperingatkan bahwa setiap serangan yang dilancarkan Israel ke ibu kota Lebanon, Beirut, akan memicu dimulainya kembali perang yang lebih luas secara penuh.

 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: