Iran Tutup Lagi Selat Hormuz
Kapal-kapal berjejer sandar di pelabuhan samudera Khor Fakkan, Uni Emirat Arab di Teluk Oman. Iran mengumumkan Selat Hormuz ditutup lagi sebagai respons pelanggaran gencatan senjata di Lebanon -Tim Redaksi/Ist-radarbengkulu
radarbengkuluonline.id, Jakarta - Perundingan lanjutan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali menabrak rintangan yang sama, yakni perang di Lebanon yang terus berlangsung.
Seperti dikutip dari laman harian disway, Iran menyatakan kembali menutup jalur pelayaran Selat Hormuz pada Sabtu, 20 Juni 2026. Langkah ini kata Teheran diambil sebagai respons dari serangan yang terus dilancarkan Israel di Lebanon, yang disebut Teheran sebagai pelanggaran terhadap kesepakatannya dengan Amerika Serikat untuk mengakhiri perang Timur Tengah.
BACA JUGA:Mengubah Cara Pandang Generasi Gen Z Terhadap Dunia Pertanian
Pasukan Israel terlibat pertempuran sengit dengan pejuang Hizbullah, sementara pesawat tempurnya melancarkan serangan mematikan di Lebanon selatan pada hari Sabtu. Situasi ini terjadi hanya berselang beberapa jam setelah Amerika Serikat mengumumkan pembaruan gencatan senjata di wilayah tersebut.
Dengan pertempuran yang terus berlangsung ini kian menekan perjanjian yang ditandatangani minggu ini oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Perjanjian tersebut semula dirancang untuk menghentikan perang regional yang lebih luas di semua lini, termasuk Lebanon, yang menjadi tuntutan utama dari pihak Teheran.
Dengan alasan adanya "pelanggaran kontrak" oleh Amerika Serikat serta "pelanggaran gencatan senjata yang terus-menerus dan tanpa henti oleh rezim Zionis di Lebanon selatan", komando militer pusat Iran mengumumkan pada Sabtu, 20 Juni 2026, "bahwa Selat Hormuz akan ditutup untuk lalu lintas kapal.
Sedangkan selat tersebut merupakan jalur penting bagi pengiriman minyak dan gas global. Selama sebagian besar masa perang, Iran memblokade jalur ini sehingga sempat memberikan guncangan besar pada pasar energi dunia. Iran sebenarnya telah sepakat untuk membuka kembali selat tersebut di bawah perjanjian awal dengan Amerika Serikat, dan lalu lintas pelayaran internasional pun baru saja mulai pulih dalam beberapa hari terakhir.
Sebelumnya, pembicaraan lanjutan mengenai kesepakatan Amerika Serikat-Iran telah direncanakan berlangsung di Swiss pada Jumat, 19 Juni 2026. Namun, agenda tersebut ditunda tanpa batas waktu setelah Israel meluncurkan gelombang serangan mematikan di Lebanon pasca-kematian empat tentaranya dalam pertempuran.
Sempat Gencatan Senjata
Jumat sore, seorang pejabat Amerika Serikat sempat mengumumkan gencatan senjata baru antara Israel dan Hezbollah yang dimediasi oleh Amerika Serikat dan Qatar. Duta Besar Israel untuk Washington bahkan menyatakan pihaknya akan menghormati gencatan senjata tersebut jika Hezbollah melakukan hal yang sama.
Akan tetapi, pada hari Sabtu, seorang pejabat militer Israel mengeklaim bahwa pihaknya melakukan serangan baru terhadap kelompok yang didukung Iran tersebut. Israel menuduh Hezbollah telah "meluncurkan lebih dari 50 proyektil ke arah pasukan Israel di Lebanon selatan" sepanjang malam.
Sementara itu, di sisi lain, Hizbullah menyatakan bahwa Israel telah melakukan "upaya penyusupan di bawah perlindungan gencatan senjata menuju bukit Ali Taher", sebuah kawasan strategis yang menghadap ke kota Nabatieh. Hizbullah menambahkan bahwa para pejuangnya "menghadapi mereka dengan senjata yang sesuai".
Media resmi pemerintah Lebanon melaporkan serangan udara Israel menyasar sekitar 20 lokasi. Badan pertahanan sipil Lebanon menyatakan 16 orang tewas di wilayah Nabatieh, di mana seorang fotografer AFP melihat asap membubung di atas kota setelah serangan terjadi.
Kementerian Kesehatan Lebanon juga melaporkan tujuh orang lainnya tewas dan 13 orang luka-luka akibat serangan di sebuah desa dekat kota Sidon. Sementara itu, seorang jurnalis AFP lainnya di sisi perbatasan Israel melihat asap membubung di belakang Kastil Beaufort yang bersejarah, sebuah posisi strategis tidak jauh dari Nabatieh yang berhasil direbut Israel bulan lalu.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
