Meraih Keberkahan di Bulan Safar

Meraih Keberkahan di Bulan Safar

Ahmad Sidik, S.Mn-Adam-radarbengkulu

radarbengkuluonline.id -- Para pembaca  yang dimuliakan Allah Swt, tidak terasa hari ini kita sudah memasuki hari Jumat  lagi. Untuk itu, redaksi sudah menyiapkan khutbah Jumat untuk pembaca semua. Judulnya, Meraih Keberkahan di Bulan Safar.


Materi ini ditulis oleh Ustadz  Ahmad Sidik, S.Mn. Rencananya, materi ini akan disampaikan saat menjadi khatib shalat Jumat di  Masjid Nurul Yaqin, Jalan Setia Negara Kelurahan Kandang Mas Kecamatan Kampung Melayu Kota Bengkulu.


Apa saja isi materi khutbahnya, silahkan dibaca langsung tulisannnya dibawah ini. Selamat membaca! Semoga ada manfaatnya bagi kita semua. 


Hadirin jamaah Jumah rahimakumullah
Hari ini kita memasuki bulan Shafar, bulan penting dalam sejarah kenabian yang ditandai dengan hijrah Nabi Muhammad Saw dari Makkah ke Madinah di akhir bulan ini.

 
Hijrah bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan spiritual penuh ujian dan kesabaran. Setelah berdakwah terbuka, Nabi dan pengikutnya menghadapi ancaman dari kaum Quraisy, sehingga hijrah menjadi jalan satu-satunya untuk mencari tempat aman agar Islam berkembang dengan baik.   


Dalam proses hijrah, kesabaran menjadi kunci utama keberhasilan Rasulullah Saw dan para sahabat menghadapi berbagai risiko dan tantangan. Dari peristiwa ini, kita belajar bahwa kesabaran bukan hanya menahan amarah atau keluhan saja, melainkan keteguhan hati dan kepercayaan penuh pada janji Allah Swt, terutama saat diuji dalam hidup.   

Hadirin jamaah Jumah rahimakumullah
Syaikh Muhammad bin Shalih rahimahullah berkata, “Manusia ketika menghadapi musibah terbagi dalam empat tingkatan. ”   


Pertama, Marah. Adakalanya saat menghadapi ujian, seseorang merasa marah tidak mau menerima takdir Allah. Seringkali manusia, ketika diuji mengeluh, bergumam, menyalahkan keadaan, bahkan mencela ketentuan Allah.

Padahal, marah kepada takdir berarti marah kepada Allah sendiri. Allah swt berfirman yang artinya: “Dan diantara manusia ada yang menyembah Allah hanya di tepi (tidak dengan penuh keyakinan). Jika memperoleh kebaikan, dia pun tenang. Akan tetapi, jika ditimpa suatu cobaan, dia berbalik ke belakang (kembali kufur). Dia merugi di dunia dan akhirat. Itulah kerugian yang nyata.” (QS. Al-Hajj: 11)   


Ayat ini mengingatkan kita untuk tidak hanya taat saat baik, tetapi juga kuat dan sabar menghadapi ujian. Sikap mudah goyah dan mengeluh justru merugikan dunia dan akhirat. Oleh karena itu, perkuat hati dengan kesabaran dan iman, bukan kemarahan atau keluhan. 


Mengeluh, baik lisan maupun hati, bisa membawa dosa bahkan syirik, dan marah adalah sikap terendah dalam menghadapi ujian.
   
Kedua, Sabar. Sabar adalah tingkatan minimal yang wajib dimiliki setiap Mukmin. Memang, sabar itu pahit rasanya, tetapi buah dari sabar sangat indah, sebagaimana ungkapan seorang penyair yang artinya: “Sabar itu pahit rasanya, tapi hasilnya lebih manis dari madu.”   


Meskipun demikian, sabar bukan berarti menyukai musibah, melainkan menahan diri dari marah dan tetap teguh dalam iman.

Nabi Muhammad SAW dan para sahabat menunjukkan betapa besar kesabaran mereka saat hijrah, menempuh perjalanan panjang yang penuh bahaya demi mempertahankan dan menyebarkan agama Allah.
  
Ketiga, Ridha. Ridha merupakan tingkatan yang lebih tinggi dari sabar. Ridha adalah menerima setiap ketetapan Allah, baik itu nikmat maupun musibah, dengan hati yang lapang dan iman yang kuat kepada qadha dan qadar.

Orang yang ridha tidak membedakan antara ujian atau kemudahan karena keduanya merupakan ketentuan Allah. Inilah kedamaian hati yang sejati, yang membedakan sabar biasa dengan kesabaran hakiki.   

Keempat, Syukur. Syukur berarti mampu bersyukur (berterimakasih) kepada Allah, bahkan di tengah musibah, karena orang beriman melihat ujian sebagai penghapus dosa dan jalan meraih pahala. 


Rasulullah Saw bersabda  yang artinya: “Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, atau penyakit, atau kehawatiran, atau kesedihan, atau gangguan, bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karenanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).  


Mari kita gunakan bulan Safar ini sebagai waktu untuk memperdalam kesabaran kita mulai dari menahan amarah, bersabar, meraih ridha, hingga mampu bersyukur atas setiap ketetapan Allah Swt.

Dengan begitu, tidak hanya keberkahan yang kita raih, tetapi juga semoga pertolongan dan kasih sayang-Nya senantiasa menyertai setiap langkah kehidupan kita. Aamiin Ya Rabbal ‘Aalamiin.

 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: