Menyingkap Tambo Suku Rejang di Provinsi Bengkulu (4) - Warga Pergi Bertarak Bersama-sama

Minggu 04-06-2023,04:29 WIB
Reporter : Azmaliar Zaros
Editor : Yar Azza

  Warga Pergi Bertarak Bersama-sama Suku Rejang sebagai salah satu suku yang mendiami ProvinsiBengkulu sejak dulu sudah mempunyai budaya yang tinggi. Mereka sudah punya huruf tersendiri yang kini masih dirawat dan dilestarikan Pemerintah daerah setempat. Untuk mengetahui kelanjutan Tambo Rejang ini, silakan baca tulisan keempat dari 25 tulisan yang akan diturunkan secara bersambung.

 

AZMALIAR ZAROS – Kota Bengkulu

 

 

RADARBENGKULU.DISWAY.ID - Dengan kerja keras, akhirnya Tuan Biku Bermano menemukan pohon benuang sakti itu untuk pertama kalinya.

Lalu, pohon itu ia tebang segera. Sayangnya, walaupun sudah ditebang, namun pohon itu tak juga roboh. Segempal runtuh kubalnya, dua kubal bertambah besarnya. Ia jadi heran dibuatnya.

 

 

 

Pada saat itu, datanglah anak buah petulai Tuan Biku Sepanjang Djiwo. Ia berkata, setelah puas rombongannya mencari kesana kemari, sekarang baru ketemu.

Ia pun mengajak rombonganya itu menebang dan merobohkan pohon tersebut. Akan tetapi, walaupun sudah susah payah, namun pohon itu tak juga mau roboh. Sama halnya dengan yang dirasakan rombongan Tuan Biku Bermano.

 

 

Tak lama sesudah itu sampai pula anak buah petulai Tuan Biku Bedjenggo. Ia pun lalu menolong menebang kayu itu. Silih berganti dia menebang pohon itu, namun pohon itu tak jua roboh.

Malahan daging pohon itu kian bertambah besar. Mereka juga jadi heran dibuatnya.

Saat istirahat, anak buah petulai Tuan Biku Bermano curiga dengan anak buah Tuan Biku Bembo. Jangan-jangan dia yang jadi penghalang sehingga pohon itu tak rebah juga.

 

 

Padahal dia dan rombongan lainnya sudah bersusah payah merobohkannya, namun tak mempan juga.

Saat itu juga, tiba-tiba datanglah rombongan anak buah Tuan Biku Bembo. Tuan Biku Bermano mengulang menceritakan bagaimana susahnya merobohkan pohon Benuang Sakti itu. Walaupun sudah dikerahkan seluruh tenaga, namun pohon itu tak juga mempan roboh.

 

 

Oleh karena itu, maka bermufakatlah keempat petulai itu. Mereka akhirnya sepakat untuk bertarak (bertapa) supaya bisa mendapatkan jalan untuk merubuhkan pohon itu secepat mungkin. Lalu mereka pun pergi betarak bersama.

Hasil dari betarak itu, kalau mau menyuruh merobohkan pohon Benuang Sakti itu, maka hendaklah dikuburkan anak gadis di bawah pohon Benuang Sakti itu.

 

 

Namun setengah riwayat menceritakan, Siamang Putih itu bersuara dari atas pohon benuang sakti katanya benuang sakti ini akan rebah kalau di bawahnya akan dikalang oleh 7 orang anak gadis muda remaja.

Akhirnya bermufakatlah mereka itu untuk mengadakan anak gadis. Oleh karena anak buah Petulai Biku Bembo yang terakhir datang dan belum pula ada kerja yang mereka lakukan, maka haruslah mereka itu yang mencarikan gadis yang dikehendaki itu.

 

 

Sungguhpun demikian, anak buah Tuan Biku tersebut sudah mencarinya dan juga sudah berikhtiar supaya anak-anak gadis yang akan dikuburkan itu tidak menjadi mati.

Untuk menguburkan anak gadis itu, maka digalilah lubang 9 hasta dalamnya dan 9 hasta lebarnya dan di atasnya dikalang dengan pelupuh.

 

 

Pekerjaan itu akhirnya dibagi-bagi. Ada yang menggali lubang saja. Ada yang membuat pengadang atau kalang. Ada pula yang mencari penutup. Sedangkan anak buah Tuan Biku Bermano memberi orang yang kerja itu makanan beram manis.

Sesudah itu barulah Benuang Sakti itu ditebang. Lalu robohlah pohon itu di atas tempat anak dara itu. Anak dara itu pun tidak apa-apa dan siamang putih itu pun raiblah.

 

 

Kemudian dinamai bang dari tiap-tiap kaum itu menurut kelakuan dan pekerjaan kaumnya masing-masing waktu menebang pohon Benauang Sakti itu.

Toebaij (Toebai asal katanya dari beroebuie cebui atau berduyun-duyun.

Bermanai (bermani) asal katanya dari mania yang artinya tiada daya lagi.

Seloepoe-ea (Seloepoe asal katanya dari beroepoe-ea oepoe-ea yang artinya bertumpuk-tumpuk.

Djoeroekalang Jang mengadakan galang yang artinya yang menjadi alangan.(bersambung)

Kategori :