radarbengkuluonline.id - Satu dekade lalu, bangunan ini adalah detak jantungperekonomian Kota Bengkulu. Terletak strategis di kawasan Pasar Minggu, Mega Mall pernah menjadi simbol kemegahan dan destinasi belanja utama warga.
Namun hari ini, Senin, 19 Januari 2026, melangkah masuk ke dalamnya bukan lagi menawarkan pengalaman belanja yang menyenangkan, melainkan menyuguhkan keheningan yang mencekam.
Bangunan bertingkat yang dulu penuh sesak kini berdiri layaknya monumen kesepian dan menyedihkan. Masyarakat setempat bahkan mulai menyematkan julukan baru yang miris: "Rumah Hantu" di tengah kota.
Pemandangan kontras langsung tersaji begitu pengunjung menapakkan kaki di pintu utama. Jika dulu pendingin ruangan menyapa dengan sejuk, kini udara pengap dan aroma debu lebih mendominasi.
Berdasarkan pantauan di lokasi, hampir 70% gerai di lantai dasar dan lantai dua tutup. Barisan rolling door besi yang terkarat dan terkunci rapat menjadi pemandangan sejauh mata memandang. Beberapa etalase kaca yang tersisa tampak kusam, diselimuti debu tebal, meninggalkan jejak-jejak kejayaan masa lalu yang telah ditinggalkan pemiliknya.
"Kalau masuk ke lantai atas, apalagi sore menjelang Maghrib, bulu kuduk bisa merinding. Lampunya remang-remang, sepi sekali. Hanya terdengar suara langkah kaki kita sendiri," ujar Rina Safitri (28), seorang warga yang kebetulan melintas hanya untuk memotong jalan.
Eskalator yang dulu sibuk mengangkut ribuan pengunjung kini mati total, menjadi tangga besi diam yang jarang dipijak. Di beberapa sudut, plafon terlihat jebol dengan noda rembesan air, menambah kesan suram bangunan yang seolah "mati suri" ini.
Di tengah kesunyian tersebut, segelintir pedagang masih mencoba bertahan hidup. Mereka adalah saksi hidup transisi Mega Mall dari pusat keramaian menjadi tempat yang ditinggalkan.
Yanti Permata Sari (50) salah seorang pedagang pakaian yang telah berjualan sejak tahun 2000- an, menceritakan kepedihannya.
"Dulu, hari biasa saja bisa dapat jutaan. Sekarang, dapat penglaris (pembeli pertama) saja sudah bersyukur. Kadang dua hari tidak ada yang beli sama sekali," ungkapnya dengan tatapan kosong menatap lorong yang lengang.
Ketika ditanya mengapa tidak pindah, alasannya klasik: biaya sewa di tempat lain yang mahal dan harapan bahwa pemerintah akan melakukan revitalisasi.
Kondisi memprihatinkan Mega Mall Bengkulu tidak terjadi dalam semalam. Beberapa faktor disinyalir menjadi penyebab utamanya:
1. Gempuran Mall Modern: Kehadiran pusat perbelanjaan baru dengan konsep lifestyle yang lebih modern di kawasan Pantai Panjang telah menyedot hampir seluruh segmen pasar anak muda dan keluarga.
2. Pergeseran Pola Belanja: Tren belanja online memukul telak pedagang konvensional yang menjual barang fashion, komoditas utama di Mega Mall.
3. Ketidakjelasan Pengelolaan: Isu mengenai status aset, perpanjangan Hak Guna Bangunan (HGB), dan kurangnya inovasi dari manajemen pengelola maupun pemerintah daerah membuat peremajaan gedung terhambat. Bangunan dibiarkan menua tanpa perawatan yang memadai.
Masyarakat Bengkulu sebenarnya merindukan Mega Mall kembali hidup. Lokasinya yang terintegrasi dengan Pasar Minggu sebenarnya memiliki potensi besar jika dikelola dengan konsep yang tepat. Misalnya diubah menjadi pusat grosir modern atau sentra kuliner dan UMKM yang terpadu.