radarbengkuluonline.id – Proyek pembangunan sistem pengendali banjir serta peningkatan infrastruktur jalan di kawasan Tanjung Agung, Kecamatan Sungai Serut, Kota Bengkulu, hingga awal tahun 2026 ini terpantau belum sepenuhnya rampung.
Kondisi ini mulai memicu kekhawatiran warga setempat, mengingat kawasan tersebut merupakan titik rawan luapan Sungai Bengkulu.
Berdasarkan pantauan di lapangan pada Selasa (20/1), sejumlah alat berat masih terlihat di beberapa titik lokasi. Meski struktur utama seperti tanggul dan drainase besar sudah mulai terbentuk, namun penyelesaian akhir (finishing) pada badan jalan dan penguatan tebing sungai masih terus dikerjakan.
Pembangunan ini sejatinya dirancang untuk mengintegrasikan sistem drainase perkotaan dengan kolam retensi guna meminimalisir dampak banjir tahunan. Namun, beberapa faktor disinyalir menjadi penyebab belum tuntasnya proyek ini. Seperti:
Inilah Proyek Pengendali Banjir di Tanjung Agung, Kota Bengkulu -Irfan Herdian-Radar Bengkulu
1. Faktor Cuaca: Intensitas hujan yang tinggi di wilayah hulu seringkali menyebabkan debit air sungai meningkat, sehingga mengganggu pekerjaan konstruksi di pinggir sungai.
2. Logistik Material: Beberapa kendala teknis terkait pengiriman material pengeras jalan sempat memperlambat progres di penghujung tahun lalu.
3. Penataan Lahan: Proses penyesuaian lahan di sekitar pemukiman warga memerlukan ketelitian agar tidak berdampak negatif pada bangunan yang sudah ada.
4. Kemarin sewaktu belum selesainya proyek jalan membuat akses mobilitas warga sedikit terhambat. Debu saat cuaca panas dan genangan lumpur saat hujan menjadi santapan harian bagi pengguna jalan yang melintas di jalur penghubung utama tersebut.
"Kami sangat mendukung pembangunan ini. Karena, Tanjung Agung ini langganan banjir. Tapi, kalau bisa dipercepat. Soalnya, kemarin waktu hujan 3 hari berturut-turut kami kebanjiran se perut orang dewasa atau sekitar satu sampai dua meter. Bahkan, ada yang sampai